Edukasi Tempat Sampah Terpilah Tanamkan Kepedulian Lingkungan Sejak Dini di SD 3 Bila Lagading
Jusuf Kalla: Alih Fungsi Lahan Menjadi Industri Dihentikan
Wapres Jusuf Kalla menyampaikan pidatonya di depan para kepala negara anggota PBB dalam Meeting Global Leaders di Ruang Konferensi Markas Besar PBB di New York, Minggu 27/9. (Gambar: Setwapresri/Jeri Wongoyanto)
Medialingkungan.com – Wakil Presiden RI Jusuf Kalla berjanji membenahi sistem tata kelola lahan di Indonesia. ‘Menghentikan alih fungsi lahan menjadi hutan tanaman industri’ adalah salah satu janjinya pada pertemuan berasama sepuluh wakil organisasi masyarakat sipil di New York, Amerika Serikat, pada Minggu (27/09).
“Tak ada lagi lahan baru untuk meningkatkan produksi. Tak boleh ada lagi upaya eksploitasi terhadap kawasan gambut,” ujar Kalla, melalui siaran pers yang diterima pada Senin (28/09).
Jusuf Kalla menuturkan bahwa kebijakan tersebut sangat penting karena dampak aktivitas industri terhadap kerusakan hutan saat ini sangat parah dan memprihatinkan. Pemerintah sudah menyiapkan suatu paket kebijakan perbaikan tata kelola lahan.
Bahkan, lanjut Kalla, pihaknya telah menyampaikan rencana paket kebijakan tata kelola lahan itu kepada Kamar Dagang dan Industri (Kadin).
Khusus kepada Kadin, Kalla mengimbau agar para pengusaha mendorong intensifikasi lahan, bukan sebaliknya.
Melalui siaran pers yang sama, Direktur Eksekutif Nasional Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) Abetnego Tarigan mengapresiasi upaya pemerintah. Dampak kerusakan lingkungan ke depan membuat pertumbuhan ekonomi tidak berkualitas. Penerimaan negara dari sektor ekonomi berbasis lahan tergerus karena penanganan kerusakan lingkungan yang terjadi.
“Tujuan pembangunan yang disepakati di New York, terutama Goal 15, meminta setiap negara anggota PBB melindungi, memulihkan, dan mempromosikan penggunaan ekosistem darat (terestrial). Pemerintah diminta mengelola hutan secara berkelanjutan, memerangi desertifikasi, menghambat dan memulihkan degradasi lahan, serta menghentikan hilangnya keanekaragaman hayati,” ujar Abetnego.
Menurut Abetnego masalah ini semakin kompleks dengan beban pemulihan atas kerusakan lingkungan, misalnya masalah kabut asap yang terjadi sejak 15 tahun terakhir.
Sementara itu, menanggapi masalah kebakaran lahan dan hutan, Jusuf Kalla mengatakan dalam pidatonya bahwa selama ini pemerintah Indonesia sudah berusaha keras untuk memadamkan api. Namun, masih sulit untuk memadamkan kebakaran hutan dalam waktu singkat.
Jusuf Kalla menyontohkan kebakaran hutan di California, Amerika Serikat, yang juga sulit untuk dipadamkan dalam waktu dekat. “Persoalannya kebakaran di Indonesia selain cuaca yang panas, juga dibantu dengan angin,” katanya. (Fahrum Ahmad)