Lemahnya Sanksi Pengaruhi Maraknya Penyelundupan Satwa

 Lemahnya Sanksi Pengaruhi Maraknya Penyelundupan Satwa

Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Siti Nurbaya Bakar (Gambar: doc)


Medialingkungan.com – Maraknya penyelundupan satwa liar, menurut Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK), Siti Nurbaya Bakar, salah satunya disebabkan oleh lemahnya sangsi bagi pelaku sebagaimana yang disebutkan di dalam Undang-undang (UU) Nomor 5 Tahun 1990 tentang konservasi sumber daya hayati.

Pasalnya, di dalam undang-undang tersebut hanya memberikan hukuman penjara maksimum lima tahun dan denda sebesar Rp 100 Juta. Hal inilah yang mendorong Menteri Siti Nurbaya untuk membahas undang-undang tersebut bersama dengan Komisi IV Dewan Perwakilan Rakyat (DPR).

“Kami sudah berkomunikasi dengan komisi IV, bapak Edi Prabowo. Dia menyatakan ‘Ibu Nur sambil kita lihat, ada program prosedur legislasinya'” ungkapnya seperti yang dikutip CNN Indonesia, Senin (18/05).

Namun Dia mengaku pembicaraannya dengan Komisi IV belum sampai kepada revisi undang-undang tersebut.

“Saya dengan komisi IV belum lompat ke revisi. Tapi lihat dulu yang ini penegakan hukumnya seperti apa. Tapi saya sudah informasikan beberapa hal. Beliau mendukung upaya kita dalam menyelamatkan satwa yang dilindungi ini,” ucap Siti.

Sejak terungkapnya kasus penyelundupan satwa liar di pelabuhan Tanjung Perak, Jakarta, 4 Mei lalu yang juga mengundang perhatian internasional itu, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) banyak melakukan langkah antisipatif terhadap hal tersebut.

Selain pembahasan undang-undang, KLHK juga pada 9 Mei lalu telah membentuk posko penyelamatan Burung Kakatua Jambul Kuning.

Sejauh ini, ada tiga posko yang disiapkan untuk mencegah penyelundupan burung tersebut, di antaranya Balai Konservasi Sumber Daya Alam DKI Jakarta, Kantor Mandala Wanabakti, dan Kantor Rehabilitasi Tegal Alur.

Berdasarkan data yang berhasil dihimpun Medialingkungan.com, sebanyak 72 ekor Burung Kakatua Jambul Kuning berhasil dikumpulkan melalui posko tersebut.

Sembilan hari setelah pembentukan posko penyelamatan Burung Kakatua Jambul Kuning pada 9 Mei 2015 lalu, telah ada 72 burung yang telah terkumpul, siap masuk karantina untuk kemudian dikonservasi. (Irlan)


Redaksi Medialingkungan.com

Related post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *