Luhut Peringatkan Jangan Lengah Terhadap Titik Api, BNPB: Negara Sudah Dirugikan Rp 20 T

 Luhut Peringatkan Jangan Lengah Terhadap Titik Api, BNPB: Negara Sudah Dirugikan Rp 20 T

Luhut peringatkan agar tetap waspada terhadap titik api. (Gambar: istimewa)


Medialingkungan.com – Menteri Koordinator Politik Hukum dan Keamanan, Luhut Binsar Pandjaitan memperingatkan agar seluruh pihak tetap waspada terhadap titik api – meskipun saat ini jumlahnya telah mengalami penurunan.

“Kira-kira titik api sekitar 5-10 persen sekarang, tapi kita tetap waspada karena beberapa hari ke depan bisa kering lagi,” ujar Luhut di Jakarta, Minggu (01/11) malam.

Luhut mengungkapkan, upaya pengeboman air (water bombing) masih terus dilakukan. Pengerjaannya lebih mudah, kata Luhut, karena kabut sudah menipis.

Menurutnya, salah satu strategi dalam meredam titik api dan kabut asap melalui hujan buatan juga terus dilakukan dengan memanfaatkan celah peluang terjadinya hujan. “Jadi kita langsung kirimkan pesawat terbang untuk membuat hujan buatan lebih banyak. Kelihatannya BPPT dengan BMKG bekerjasama dengan baik, sehingga kita berhasil membuat hujannya lebih banyak,” ujar Luhut.

Menanggapi desakan aktivis lingkungan untuk segera membuka daftar perusahaan yang terbukti membakar hutan dan lahan, Luhut katakan bahwa nama-nama perusahaan itu akan diumumkan di waktu dan dengan cara yang tepat.

“Kita akan beritahu melalui cara-cara kita kepada publik. Tetapi, kita tidak ingin menggangu keadaan ekonomi karena pengumuman itu. Kita tunggu waktu yang pas dan cara yang tepat,” ujar Luhut.

Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menyebutkan total luas area yang terbakar sampai dengan 20 Oktober lalu mencapai 2.089.911 hektare. Meski luasnya belum mencapai luas kebakaran pada 1997, namun dampak ekonomi dan korban jiwa akibat kebakaran tahun ini lebih besar tahun dibandingkan sebelumnya. BNPB memperkirakan, kerugian negara akibat kebakaran ini sudah lebih dari Rp20 triliun.

Hingga 20 Oktober, BNPB mencatat lahan gambut yang terbakar paling banyak terjadi di Kalimantan dengan luas 267.974 hektare. Provinsi Kalimantan Tengah menyumbang besaran lahan gambut terbakar terbanyak dengan 196.987 hektare. Kebakaran gambut itu paling banyak terjadi Kabupaten Seruyan dan Kotawaringin Timur.

Lalu menyusul Kalimantan, Sumatera berada di posisi kedua sebagai pulau yang lahan gambutnya paling banyak terbakar, yaitu 267.974 hektare. Lahan gambut yang dilahap api di Sumatera Selatan mencapai 144.410 hektare. Kabupaten Ogan Komering Ilir memiliki titik api terbanyak di wilayah tersebut.

Tidak hanya terjadi di Kalimantan dan Sumatra, kebakaran gambut juga terjadi di Papua, yakni seluas 31.214 hektare. Provinsi Merauke, Mappi, dan Boven Digul menyumbang titik api terbanyak di Papua.

Sedangkan, untuk peraturan pengganti undang-undang terkait perlindungan hutan yang didengungkan Kementerian yang dipimpin Siti Nurbaya, pihaknya belum mengetahui dan masih akan mengevaluasinya. “Besok kami ada rapat untuk evaluasi apa yang akan kami kerjakan dan apa yg kita lakukan ke depan,” ungkap Luhut. {Fahrum Ahmad}


Redaksi Medialingkungan.com

Related post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *