Pemerintah Gencarkan SVLK Untuk Tekan Peredaran Kayu Ilegal

 Pemerintah Gencarkan SVLK Untuk Tekan Peredaran Kayu Ilegal

Ilustrasi (Gambar: itoday)


Medialingkungan.com – Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) gencar melakukan penerapan Sistem Verifikasi Legalitas Kayu (SVLK) terhadap setiap perusahaan kayu di Indonesia untuk mencegah pembalakan liar sekaligus menekan peredaran kayu ilegal yang marak terjadi.

“Sistem verifikasi legalitas kayu adalah alat untuk mencegah ilegal logging sehingga kayu yang tidak jelas asal-usulnya tidak sampai terjual di pasaran,” kata Dirjen Pengelolaan Hutan Produksi Lestari (PHPL) KLHK, Ida Bagus Putera Prathama.

Di Surabaya pernah dijaring kayu sitaan yaitu kayu Merbau, sampai saat ini tidak ada satupun perusahaan yang ingin mengelola kayu tersebut – dikarenakan seluruh pihak tahu itu adalah kayu yang illegal.

“Ini bukan laporan resmi, yang saya dengar dari balai di Surabaya, kayu itu tidak ada yang berani mengolahnya,” ucapnya.

Sementara itu, Juru kampanye Forest Watch Indonesia (FWI), M Kosar mengungkapkan, maraknya pembalakan dan pengiriman kayu ilegal dari Papua disebabkan kelemahan di hulu dan hilir. “Pada sektor hulu, izin pemanfaatan hasil hutan yang dikeluarkan oleh Gubernur menjadi celah untuk peredaran kayu illegal,” katanya, seperti yang diberitakan antara, (06/11).

Izin yang diberikan oleh Gubernur hanya dibolehkan untuk warga agar memanfaatkan kayu untuk dipakai sendiri atau untuk kepentingan umum. Namun saying, kayu itu justru dijual ke pengusaha dan dikirim secara ilegal ke Pulau Jawa.

“Masalahnya perusahaan di Papua tidak menerapkan SVLK, sehingga pembalakan dan pengiriman kayu ilegal semakin gencar terjadi,” tuturnya.

Di hilir, jumlah aparat pengawas lalu lintas barang di pelabuhan juga terbatas. Mereka sering kali hanya melakukan pengecekan dokumen tanpa melakukan verifikasi fisik barang, sehingga kayu ilegal leluasa masuk dan bongkar muat. 

“Kelemahan inilah yang kerap dimanfaatkan oleh pengusaha nakal di negeri ini,” tambahnya. {Angga Pratama}


Redaksi Medialingkungan.com

Related post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *