Peneliti: Cemara Laut Mampu Perbaiki Kondisi Lingkungan Pantai


Medialingkungan.com – Kondisi lahan pantai berpasir pada umumnya diketahui tidak dapat dimanfaatkan sebagai areal budidaya. Sebab perbedaan suhu yang ekstrim pada siang dan malam hari, udara yang sangat kering, kencangnya hembusan angin, kandungan unsur hara yang rendah dan uap air yang mengandung garam-garaman pada lahan ini mengganggu pertumbuhan tanaman.

Peneliti Balai Penelitian Teknologi Kehutanan Pengelolaan Daerah Aliran Sungai (DAS), Beny Haryadi mengungkapkan kondisi ini dapat diperbaiki dengan teknik rehabilitasi lahan dan konservasi tanah (RLKT) menggunakan cemara laut atau cemara udang (Casuarina equisetifolia).

“Adanya cemara laut meningkatkan agregasi perkembangan struktur tanah karena memperbesar granulasi dan porositas tanah, memperbaiki unsur hara  dan meningkatkan kadar air tanah di bawah tegakan,” ujar Beny dalam forda-mof.org.

Beny menjelaskan jenis tanaman khas pantai ini mampu menciptakan iklim mikro yang memungkinkan budidaya tanaman semusim dan holtikultura pada areal setelah tegakannya, yang berdasarkan hasil kajiannya bisa menghasilkan tiga kali lipat lebih besar dibandingkan dengan budidaya tanah mineral.

Lebih lanjut Beny mengatakan selain hasil produksi di atas, suasana pantai yang hijau rimbun dan sejuk juga dapat dimanfaatkan sebagai obyek wisata alam.

Beny menyebutkan salah satu daerah yang berhasil menggunakan teknik konservasi tanah secara vegetative ini adalah Kebumen, Jawa Tengah yang terbukti dalam 3 tahun ini telah terjadi peningkatan kunjungan wisata sebesar 39.02%.

Beny juga menuturkan bibit tanaman cemara laut yang dikembangkan di lahan pantai berpasir ini  berasal dari perbanyakan generative yang dapat menghasilkan penampilan cemara laut dewasa yang lebih kokoh dan tajuk yang indah dibandingkan bibit dari cangkok.

“Bibit cemara laut yang dipakai adalah bibit yang berasal dari induk yang sehat, dengan kriteria memiliki batang coklat, daun hijau gelap dan ukuran diameter batang setengah cm atau keliling batang sekitar 2 cm dengan umur bibit sekitar 6 bulan sampai 1 tahun,“ lanjutnya.

Dia juga mengatakan pengembangan metode ini dapat dilakukan sebagai teknik perbaikan lingkungan pantai lain di Indonesia yang memiliki masalah serupa dengan di Kebumen, Jawa Tengah.

“Pelibatan pastisipasi masyarakat merupakan faktor penting untuk mendukung keberhasilan RLKT sehingga perlu terus dikelola dengan baik,” harap Beny. (Ir)


Redaksi Medialingkungan.com

Related post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *