Peneliti: Suku Inca Korban Pertama Efek GRK


Medialingkungan.com – Efek Gas Rumah Kaca (GRK) ternyata sudah terjadi sejak ratusan tahun yang lalu. Hal ini dibuktikan dengan  penelitian yang dilakukan oleh Peneliti Ohio yang mengungkapkan bahwa Suku kuno Inca yang terdapat di peru, diklaim sebagi korban pertama dari bahaya GRK buatan manusia. Mereka harus bertahan di tengah polusi udara yang muncul akibat penambangan perak.

Penelitian ini kemudian diperkuat dari contoh es yang terbentuk selama 1.200 tahun lalu di pegunungan Andes. Setiap lapisan es yang ada memiliki senyawa kimia yang berasal dari udara, baik saat musim hujan maupun kering.

“Bukti ini mendukung bahaya revolusi industri terhadap lingkungan yang luas. Manusia bertanggung jawab terhadap dampak lingkungan yang membahayakan dan ini terjadi sejak ratusan tahun lalu,” ujar Dr. Paolo Gabrielli, seperti dikutip melalui Daily Mail, Selasa (10/2).

Pada abad ke-16, Spanyol menguasai sebagian wilayah di Amerika Selatan, termasuk didalamnya suku Inca. Spanyol memaksa suku inca untuk bekerja menambang perak di puncak gunung Potosi, yang sekarang menjadi Bolivia, katanya.

Gabrielli menambahkan bahwa masyarakat suku Inca sejatinya sudah mengetahui bagaimana menambang perak tersebut. Namun pada 1572, Spanyol memperkenalkan teknologi baru yang mampu mempercepat produksi. Teknologi baru itu yang menghasilkan debu dan asap ke awan dan membuat Andes memiliki kandungan GRK yang cukup tebal.

Angin membawa beberapa sisa polusi 500 mil ke arah barat laut Peru dan menetap di permukaan es Quelccaya. Di situlah polusi menetap, terkubur di dalam salju dan es selama ratusan tahun, sampai peneliti Ohio menemukannya di 2003.

Menurut Gabrielli, proses pemurnian logam yang diperkenalkan Spanyol melibatkan penghancuran bijih perak, yang mengandung timah dan perak, lalu menjadi bubuk. Hasil penghancuran itu memunculkan debu logam yang terbang ke atmosfir bersama angin. Bubuk tersebut bercampur dengan merkuri. Perak dipisahkan dengan memanaskan campuran tersebut sehingga memungkinkan merkuri menguap. (AH)


Redaksi Medialingkungan.com

Related post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *