Peringatkan Bahaya Batu Bara, Greenpeace: Pemerintah Indonesia Harus Revisi Kebijakan Energi

 Peringatkan Bahaya Batu Bara, Greenpeace: Pemerintah Indonesia Harus Revisi Kebijakan Energi

Ilustrasi PLTU Batubara {Gambar: Kompas}


Medialingkungan.com – Greenpeace Indonesia turut menanggapi peringatan keras dari Presiden Bank Dunia, Jim Yong Kim terkait bahaya penggunaan batu bara sebagai sumber daya pembangkit listrik. Harapan dari Perjanjian Paris akan hancur jika negara-negara di Selatan dan Asia Tenggara masih terus mengedepankan rencana penggunaan batu bara. Negara di kawasan tersebut berencana membangun ratusan lebih pembangkit listrik tenaga batu bara selama 20 tahun ke depan.

Mr. Kim dalam sambutannya kepada pemerintah dan pemimpin perusahaan di Washington menyatakan, “Jika seluruh wilayah Selatan dan Asia Tenggara mengimplementasikan rencana pembangunan pembangkit listrik berbasis batu bara, kita benar-benar akan mengalami krisis.”

“Itu berarti bencana untuk kita dan planet kita,” tambahnya.

Menanggapi pernyataan tersebut, Arif Fiyanto selaku juru kampanye senior Greenpeace Indonesia menyatakan bahwa semua kerjasama dan janji-janji dalam Perjanjian Paris tidak akan berarti apa-apa kecuali batu bara dihentikan.

“Kita sudah berada di garis perubahan iklim yang berbahaya. tindakan radikal perlu terjadi sekarang, dan itu berarti melepas bebas cengkraman bahan bakar fosil. Batu bara membunuh kami, dan perluasan industri batu bara akan membunuh planet kita,” kata Arif dalam siaran pers Greenpeace Indonesia (06/05).

Arif menambahkan rencana pemerintah Indonesia untuk 24 GW (GigaWatt) pembangkit listrik tenaga batu bara sangat intoleran. Tidak ada penduduk Indonesia yang akan berterima kasih kepada pemerintah untuk rencana ini jika pada akhirnya hanya akan merenggut masa depan anak-anak mereka.

“Rencana ini tidak hanya akan mengunci Indonesia ke zaman kegelapan, mereka juga akan melemahkan komitmen Presiden Jokowi sendiri yaitu mengurangi emisi gas rumah kaca Indonesia sebesar 29% pada tahun 2030,” ujarnya.

Arif berpendapat bahwa Presiden Jokowi harus merevisi kebijakan energi Indonesia, atau kita tidak akan pernah mencapai target energi terbarukan.

“Kita harus pindah dari batu bara. Merangkul energi terbarukan untuk kebutuhan energi kita adalah satu-satunya cara untuk mencapai hal ini.” kata Arif. {Muchlas Dharmawan}


Redaksi Medialingkungan.com

Related post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *