Djoko Kirmanto: Potensi Air Indonesia Perlu Dikelola Terpadu

 Djoko Kirmanto: Potensi Air Indonesia Perlu Dikelola Terpadu

Ilustrasi Air Di Indonesia (Gambar: ekspresnews


Medialingkungan.com – Indonesia memiliki potensi sumber daya air terbesar kelima di dunia, yakni sekitar 3.900 miliar kubik per tahun. Demikian kata Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PU-PERA) dalam sambutan yang disampaikan oleh Dirjen Sumber Daya Air, Mudjiadi, pada Indonesia Water Learning Week (IWLW), Senin (24/11) di Jakarta.

Dalam kegiatan tersebut dihadiri sejumlah perwakilan dari beberapa Kementerian terkait, yakni mantan Menteri PU Djoko Kirmanto, dan mantan Dirjen Sumber Daya Air, Moch. Amron.

“Potensi tersebut tentunya perlu optimalisasi dari segi distribusi spasial maupun secara temporal. Dari potensi tersebut, 17,70% yang dapat diandalkan untuk digunakan karena berdasarkan data 80% dari waktu debit aliran air tersebut ada di badan air. Sebanyak 25,3% dari debit andalan tersebut telah digunakan dan sisanya mengalir ke laut,” ungkap Muljiadi.

“Sekitar 80 persen dari waktu debit aliran air tersebut ada di badan air. Sebanyak 25,3 persen dari debit andalan tersebut telah digunakan dan sisanya mengalir ke laut,” sambungnya.

Ia katakan, dalam bidang sumber daya air banyak sekali tantangan, antara lain adanya konflik kepentingan ruang antara manusia dan air. Tidak hanya itu, masih ada pengelolaan sumber daya air yang belum terintegrasi secara baik akibat ego sektoral yang kuat, terfragmentasi, serta hanya berorientasi pada pertumbuhan ekonomi sesaat.

Menteri PU-Pera ini mengungkapkan, Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) perlu dikembangkan sebagai alternatif sumber energi yang terbarukan dan ramah lingkungan. Menurutnya, potensi PLTA di Indonesia sangat besar yaitu sebesar 75 GW sedangkan yang telah dikembangkan baru sekitar 5,25 persen.

“Pesatnya pertumbuhan ekonomi dan urbanisasi saat ini telah menyebabkan semakin tingginya konflik di antara berbagai penggunaan air. Untuk itu, diperlukan pengelolaan sumber daya air terpadu untuk mengatasi tantangan terhadap sektor sumber daya air di Indonesia,” ujarnya.

Dalam rangka mendukung proses perencanaan pengelolaan air secara terpadu, beberapa kementerian atau instansi menjalin kerjasama menyelenggarakan kegiatan IWLW dengan tema “ketahanan air untuk Indonesia: Nexus Air-Energi-Pangan.”

Kementerian atau instansi tersebut terdiri atas Kementerian Koordinator bidang Perekonomian, Kementerian PPN, Kementerian Kehutanan dan Lingkungan Hidup (Kemenhut-LH), Kementerian Pertanian, Kementerian Kesehatan, Kementerian PU dan Perumahan Rakyat, Kementerian ESDM dan Asian Development Bank.

Kegiatan ini menyoroti pentingnya air sebagai elemen kunci bagi pembangunan ekonomi dan sosial di Indonesia. IWLW juga memperhatikan perkembangan dan tantangan di masa mendatang yang berhubungan dengan ketahanan air.

Sementara itu, Mantan Menteri Pekerjaan Umum, Djoko Kirmanto mengatakan, banyak sungai di Indonesia dalam kondisi sakit, sehingga menurut Djoko perlu dilakukan perbaikan pada siklus hidrologi untuk menyembuhkannya.

Menteri yang menjabat selama kepemimpinan SBY ini (2004-2014) mengimbau agar segera dilakukan perbaikan siklus hidrologi. “Perbaikan siklus hidrologi ini dapat dilakukan dengan menjaga proses penguapan air dari hulu ke hilir, sehingga air tidak hanya terbuang ke laut.”

Ia juga menambahkan, kondisi sungai saat ini dalam keadaan tidak seimbang, “banjir saat musim hujan, kekeringan saat kemarau. Padahal seharusnya debit air tetap stabil di segala kondisi.”

Harapan tersebut sejalan dengan keputusan Presiden Joko Widodo pasca pertemuan dengan kepala-kepala daerah se-Indonesia baru-baru ini yang mengungkapkan niatnya untuk membangun 49 waduk dan bendungan guna menjamin pasokan air untuk persawahan sehingga dapat memperkuat ketahanan pangan. (AH)


Redaksi Medialingkungan.com

Related post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *