Praktisi Lingkungan Dunia Desak Keputusan Iklim PBB Pertimbangankan Krisis Imigrasi Global

 Praktisi Lingkungan Dunia Desak Keputusan Iklim PBB Pertimbangankan Krisis Imigrasi Global

Ilustrasi gambar (Gambar:thesun)


Medialingkungan.com – Bulan lalu para pengamat dan praktisi bidang lingkungan di dunia beramai-ramai berkomentar mengenai muculnya video beruang kutub yang sangat memilukan, terengah-engah jalan di atas gunung es.

Menurut para aktor gerakan lingkungan ini, beruag kutub merupakan potret ukuran bahwa perubahan iklim saat ini berada pada posisi darurat. “Bukan hanya bagi beruang namun juga umat manusia,” ujarnya pada VOA.

“Perubahan iklim kemungkinan menyebabkan jutaan orang mengungsi. Perubahan iklim tidak hanya berdampak bagi beruang kutub tapi juga bagi hidup umat manusia karena bisa menyebabkan jutaan orang terpaksa mengungsi dari tempat tinggalnya.”

Mereka juga menekankan, krisis imigrasi yang membayangi manusia akibat perubahan iklim harus dimasukkan dalam kesepakatan iklim dunia di Paris, Desember mendatang. Untuk itu, mereka mendesak para negosiator yang sedang merancang kesepakatan tersebut agar menyertakan ketentuan-ketentuan yang ditujukan untuk mencegah migrasi massal dengan membantu komunitas yang rentan terhadap resiko itu untuk beradaptasi dengan realitas iklim baru.

Sementara itu, penasihat khusus Direktur Perlindungan Internasional di Badan Pengungsi PBB (UNCHR), Jose Riera mengatakan, beruang kutub menjadi gambar yang paling mewakili perubahan iklim di bumi.

“Beruang kutub hidup di es laut. Dengan menghangatnya atmosfir bumi, habitat beruang kutub menurun. Mereka tidak bisa berburu di perairan yang terbuka, dan mereka sekarat, kadang-kadang tenggelam ketika mencoba mencari gumpalan es yang menghilang.”

UNHCR telah membantu 46,3 juta pengungsi, orang-orang yang tidak mempunyai negara, orang-orang yang kembali ke negara mereka, dan para pengungsi dalam negeri. Banyak dari mereka yang terkonsentrasi di wilayah yang terkena dampak perubahan iklim di seluruh dunia.

Riera mengungkapkan, migrasi yang berkaitan dengan iklim dan pengungsian akan menimbulkan tantangan besar di masa yang akan datang. Para pejabat UNHCR juga menambahkan bahwa tidak banyak waktu lagi untuk mengatasi masalah-masalah penting yang dikemukakan oleh jutaan imigran akibat perubahan iklim yang terpaksa membuat mereka pergi dari dari tempat tinggalnya.

“Kami berharap pihak-pihak yang berkepentingan akan mengakui bahwa perubahan iklim memang faktor penentu dalam mobilitas manusia dan kemungkinan besar akan meningkatkan populasi pengungsi bila tidak ada tindakan konkrit yang diambil,” kata Riera.

“Pesan kedua yang penting adalah mendorong Amerika Serikat untuk mengambil langkah-langkah untuk mencegah dan mengatasi pengungsian dalam konteks perubahan iklim, termasuk melalui strategi adaptasi.”

Pusat Pengawasan Pengungsian Internal (IDMC) yang berkantor di Geneva, Swiss, mencatat, jumlah orang-orang yang terpaksa mengungsi akibat bencana alam. “Trennya tidak kelihatan bagus,” seloroh Direktur IDMC, Alfredo Zamudio.

“Bukti-bukti yang kami miliki menunjukkan bahwa sejak tahun 1970 sampai 2013, resiko terkena dampak pengungsian internal telah meningkat dua kali lipat,” sampung Zamudio.

“Pada tahun 2013 hampir 22 juta orang mengungsi ke setidaknya 119 negara, hampir tiga kali lipat jumlah orang-orang yang terpaksa mengungsi akibat konflik dan kekerasan di tahun yang sama.”

Sejak 2008, ketika pusat pengawasan itu mulai memonitor pengungsian, 160 juta orang telah mengungsi di 161 negara. Resiko tertinggi adalah di Asia di mana negara-negara secara berkala terkena topan, banjir dan gempa bumi.

Para ilmuwan setuju pengungsian akan meningkat di beberapa dekade mendatang karena naiknya permukaan air laut dan pemanasan global meningkatkan frekuensi dan intensitas peristiwa-peristiwa cuaca yang ekstrim. (Fahrum Ahmad)


Redaksi Medialingkungan.com

Related post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *