Sibak Diskreditas Air

 Sibak Diskreditas Air

Air sudah menjadi kebutuhan dasar manusia sejak berabad-abad sebelumnya. Namun, fenomena baru memunculkan sugesti bahwa air terkadang menjadi kawan dan kerap kali menjadi lawan. Sebuah paradoks yang kian hari melekat tajam ketika melihat pelbagai peristiwa negatif yang ditimbulkan air.

Utamanya musim penghujan seperti saat ini. Manusia seakan melaknat air yang turun dari langit seolah wabah yang mengancam aktivitas manusia dan berpotensi bersifat koersif. Ironis, ketika air yang seyogyanya adalah anugerah Yang Maha Kuasa sebagai penyeimbang dunia harus menerima celotehan ini. Hal tersebut sama artinya dengan menolak rantai yang sudah ditetapkan pencipta.

Dalam riwayat romawi kuno, air kerap kali dijadikan sebagai simbol dalam perayaan ritual-ritual tertentu. Pada perayaan liturgi misalnya, simbol air digunakan untuk mengungkapkan pembersihan dosa dan penganugerahan keselamatan dan penciptaan baru. Simbol ini sangat diperlukan dalam perayaan liturgi karena perayaan itu merupakan sebuah perayaan kehidupan.

Bahkan, dalam karangan teranyar David S Goyer, Da Vinci Demons, air disebutkan sebagai salah satu simbol untuk kode kaum Mithras agar saling mengenal. “…aku kehausan, berikan aku sesuatu untuk diminum dari Mata Air Ingatan.” Meskipun dalam arti mutlak air yang dimaksudkan sebagai khiasan, namun air senantiasa memberi kesan kesucian dan kedamaian, sehingga tidak berlebihan jika manusia menjuluki air sebagai salah satu sumber kehidupan.

Dalam tubuh manusia, kandungan air (H2O) merupakan komposisi yang paling banyak jumlahnya dibandingkan zat-zat lainnya. Jumlah kandungan air pada tubuh orang dewasa bisa mencapai 60-65 persen. Hal ini menjadikan air menjadi zat terpenting bagi tubuh manusia.

Faedah air memang sangat besar. Namun, banyak aktivitas manusia menyebabkan keadaan berbalik. Air yang semula teman, kini acap kali menjadi musuh. Segerombolan orang di formasi kenegaraan merumuskan strategi layaknya strategi dalam medan perang saat akan memasuki musim penghujan untuk mentaktisi dampak yang akan ditimbulkan.

Hujan yang saat ini sudah tidak menentu hadirnya bukan sebuah hal yang luput dari kesadaran kita, namun kita menolak untuk mengingat bahwa kita “manusia” sangat subjektif memandang sumber daya alam. Dan perubahan iklim merupakan Domino Effect dari aktivitas manusia yang menggunakan sumber daya secara tidak terkendali.

Kita mungkin masih ingat pada pesta sepak bola teranyar, Piala Dunia 2014 di Brazil. Kota Sao Paolo, salah satu kota metropolis dunia yang ditunjuk sebagai lokasi pembukaan Piala Dunia mengalami krisis air sebulan sebelum pembukaan kompetisi terbesar di bumi tersebut dimulai. Curah hujan di kota ini adalah yang terendah sejak 1930 silam, dan mengakibatkan kekeringan terburuk sepanjang sejarah yang pernah terjadi di kota ini.

Di Indonesia sendiri ada peristiwa yang sangat memilukan, selain banjir Ibu Kota yang tiap tahun menjadi tugas tersendiri bagi Pempov DKI Jakarta, kita juga tak lupa saat Kota Manado mengalami krisis air bersih pasca banjir bandang yang membuat warga sempoyongan pada Januari 2014 lalu.

Sebagai alternatif, masyarakat menggunakan air selokan untuk melakukan aktivitas “bersih-bersih”. Pemandangan tersebut ditemui di depan SD Katolik St Tarsisius Manado yang terletak di pinggir jalan utama Manado-Tomohon, tepatnya di Kelurahan Winangun, Kecamatan Malalayang.

Pemandangan yang sangat menyedihkan ketika puluhan warga mulai orang dewasa hingga anak-anak terlihat melakukan aktivitas cuci pakaian, cuci motor, bahkan memandikan anak balita dari air selokan.

Manusia terkesan tidak konsisten dengan perbuatannya sendiri, saat musim kemarau, kita meminta segera hujan, namun saat musim hujan tiba, kita kembali meminta musim kemarau segera menghampiri.

Krisis air menjadi ancaman bencana bagi negeri ini. Menurut data dan analisa Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, bencana alam terkait dengan air (water related disaster), tidak hanya banjir dan tanah longsor, tapi juga kekeringan, pencemaran air tanah, dan sebagian besar itu karena perilaku manusia.

Ia menyimimpulkan bahwa sebagian besar bencana banjir yang terjadi di Indonesia merupakan akibat kelalaian dalam mengelola sumber daya alam dan lingkungan dengan baik dan benar. Sebab secara umum, fenomena banjir yang terjadi di Indonesia selalu berkorelasi dengan praktek penggundulan hutan dan rusaknya kawasan resapan air di daerah hulu.

Berkurangnya daerah resapan air tidak hanya menyebabkan banjir tapi juga memicu bencana kekeringan di kala musim kemarau, akibat berkurangnya cadangan air tanah yang amat dibutuhkan untuk —keberlangsungan kehidupan ekologi dan ekosistem (tidak hanya manusia).

Jika aktivitas manusia yang masih mengekspolitasi alam tanpa berpedoman pada azas pelestarian terus berlanjut, maka “barangkali” manusia akan sama ceritanya dengan mitologi Maya, dari Popol Vuh, bagian 1, Bab 3, Huracan (“kaki-satu”), yakni dewa angin dan badai yang menyebabkan Air Bah (berupa cairan pohon yang dapat terbakar) setelah manusia-manusia pertama (yang terbuat dari kayu) membangkitkan kemarahan para dewata. Ia konon hidup di dalam embun berangin di atas air banjir dan berbicara “bumi” hingga tanah muncul lagi dari lautan.

Atau bisa dibayangkan jika banjir bah yang tak terkendali lagi menyebabkan air naik hingga ke langit seperti dalam beberapa varian mitos cerita bangsa Aztek.  

“Ketika Zaman Matahari datang, 400 tahun telah berlalu. Lalu datanglah masa 200 tahun, kemudian 76 tahun. Lalu seluruh umat manusia hilang dan tenggelam serta berubah menjadi ikan. Air dan langit menjadi berdekatan. Dalam satu hari semuanya lenyap, dan Empat Bunga menelan seluruh tubuh kita. Gunung-gunung ditelan dalam banjir, dan airnya tetap tenang selama 52 musim semi. Tetapi sebelum banjir datang, Titlachahuan telah memperingatkan Nota sang manusia dan istrinya Nena, sambil berkata, ‘Jangan lagi membuat pulque, tetapi lubangilah bagian tengah pohon cypress yang besar, dan engkau harus masuk ke dalamnya pada bulan Tozoztli. Air akan naik hingga dekat ke langit.’ Mereka masuk, dan ketika Titlacahuan menutup mereka di dalamnya, ia berkata kepada lelaki itu, ‘Engkau hanya boleh memakan sebatang jagung, demikian pula dengan istrimu’. Dan ketika mereka masing-masing telah memakan sebatang jagung, mereka bersiap-siap untuk berjalan terus, karena airnya tenang.”

Kendati masih menyimpan kontroversi karena keakuratan atau otentisitasnya, dokumen Aztek Kuno Codex Chimalpopoca, yang diterjemahkan oleh Abbé Charles Etienne Brasseur de Bourbourg ini cukup memeberi gambaran efek manusia agar menjaga stabilitas alam.

Sehingga cukup rasional jika sekelas Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Sofyan Djalil menuturkan bahwa perang dunia bukan disebabkan oleh komoditas minyak lagi, tetapi karena tidak adanya sumber daya air.

Bukan hanya Sofyan yang menuturkan hal serupa, banyak analis dunia memprediksi perang dunia bukan karena minyak lagi tapi karena air. Tidak dipungkiri, sampai saat ini masih banyak daerah di Indonesia belum memperoleh akses air bersih. Pemerintahan Jokowi-JK punya waktu lima tahun untuk menyelesaikan persoalan ini.

Sebagai negara agraris kita butuh air untuk kehidupan. Yang paling penting adalah air minum, yang kedua adalah irigasi. Kita diuntungkan dengan siklus dua musiman, yakni kemarau dan penghujan. Di masa yang akan datang kita hendak menyadari arti pohon sebagai pengikat air agar air tersedia pada musim kemarau dan terserap saat musim penghujan untuk kehidupan Indonesia yang lebih terjamin. Untuk itu, pada ruang-ruang beradab, pertimbangan masalah lingkungan hidup tak bisa melalui proses tawar-menawar.

Pada posisi seperti sekarang, jalan minimalisir dampak dan mitigasi perubahan iklim seharusnya menjadi tanggung jawab bersama. Tidak elok rasanya bila kita terus menggosok-gosok opini dan mengembangkan sikap saling mendelegitimasi dan saling menyalahkan ketika dampak sudah berjatuhan. Kontribusi nyata dan peran masing-masing orang menjadi jawaban bijak untuk sinerjitas alam dan manusia. (EDITORIAL)


Redaksi Medialingkungan.com

Related post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *