Tambora, Habis Gelap Terbitlah Terang

 Tambora, Habis Gelap Terbitlah Terang

Letusan Gunung Tambora di Sumbawa, Nusa Tenggara Barat. (Gambar isains)


Medialingkungan.com – Presiden Joko Widodo meresmikan Gunung Tambora sebagai Taman Nasional ke-51 di Indonesia berdasarkan keputusan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Nonor 111/MenLHK-II/2015 pada 7 April 2015. Hal ini membuktikan khasanah kekayaan alam Indonesia yang gemilang. Peresmian ini dilakukan di Padang Savana Doro Ncanga, Kabupaten Dompu, Nusa Tenggara Barat, Sabtu (11/04).

Tambora memiliki luas 71.644 Ha dengan beberapa zonasi (kewilayahan), seperti cagar alam berupa landskap yang harus steril dari aktivitas manusia kecuali untuk kegiatan penelitian. Kemudian, zona suaka margasatwa dengan beraneka ragam satwa, terutama jenis Aves atau burung.

Zona selanjutnya yakni pemanfaatan wisata yang diperuntukkan untuk jasa lingkungan atau tempat wisata serta sebagai salah satu sumber energi alternatif (microhydro) dengan memanfaatkan air terjun. Zona lainnya adalah zona Taman Buru.

Luas masing-masing zona ini, yakni cagar alam 23.840 hektare, Suaka Margastwa 21.674 hektare, dan Taman Buru 26.130 hektare.

SEPENGGAL KISAH LETUSAN GUNUNG TAMBORA di Pulau Sumbawa, Nusa Tenggara Barat, yang meletus dua abad silam, tepatnya pada 10 April 1815. Hari itu merupakan momen yang mengagetkan hampir se-antero dunia. Letusannya bahkan terdengar di beberapa kepulauan besar di Indonesia, termasuk Ternate, Bengkulu, Batavia (nama saat itu) hingga Makassar. Letusan itu disebut-sebut sebagai yang terdahsyat sepanjang sejarah (moderen).

Dalam ulasan Tempo dikatakan bahwa letusan Tambora menyemburkan material abu, gas dan bebatuan dimuntahkan hingga radius 160 kilometer. Bahkan, membentuk tiga kolom asap setinggi 43 kilometer yang menembus lapisan stratosfer. Ratusan ribu jiwa meninggal dunia. Perkampungan hangus, bencana kelaparan dan kekeringan terjadi di mana-mana.

Sekiranya ada tiga kerajaan juga lumpuh saat itu, yakni Kerajaan Sumbawa, Kerajaan Bima, dan Kerajaan Dompu. Kejadian ini bahkan tertulis dalam naskah kuno Bima, Bo Sangaji Kai.

TAMBORA DISEBUT SEBAGAI “POMPEII” DARI TIMUR. Pasca letusan itu, para ahli gunung berapi dan antropologi dunia dating untuk meneliti Gunung Tambora. Berbagai artefak bekas kerajaan ditemukan berserakan di sekitarnya. Artefak sisa permukiman di Gunung Tambora membuat para ahli menyebut kawasan ini sebagai Pompeii dari Timur. Pompeii merupakan desa yang hilang terkubur material letusan Gunung Vesuvius di Kota Pompeii, Italia, pada 79 Masehi, di tengah-tengah pertarungan para Gladiator.

Material-material letusan Gunung Tambora menutup sebagian atmosfer sehingga menghalangi pancaran sinar matahari ke bumi. Benua Eropa tak mendapatkan cahaya di musim panas hingga setahun pasca letusan terjadi.

Gunung yang awalnya setinggi 4.300 mdpl, kini menjadi 2.815 mdpl dan memunculkan kaldera seluas 8 kilometer persegi di bawah puncak gunung. Untuk menyamai letusan itu dibutuhkan setidaknya 171.500 unit bom atom.

Eropa kala itu mengalami kegelapan panjang akibat tertutup lapisan partikel letusan Tambora. Kondisi iklim menjadi abnormal. Kondisi ini melahirkan sebutan “the years without summer” yang mengakibatkan gagal panen yang berkepanjangan. Akibat kegagalan panen itu juga Napoleon Bonaparte kalah dalam medan perang di Eropa.Selain itu, wabah penyakit yang mencuat juga sangat memanikkan masyarakat.

Dikutip dari Mongabay Indonesia bahwa ada salah satu catatan penting letusan Tambora yang menjadi referensi sejarah adalah History of Java, buku yang ditulis oleh Sir Thomas Stamford Raffles Gubernur Jendral Inggris di Jawa saat itu. Raffles mengumpulkan berbagai informasi dari para pedagang, peneliti dan armada militer Inggris yang saat itu berada di nusantara.

Dari catatan tersebut, para peneliti kemudian melakukan kalkulasi jumlah korban jiwa letusan Tambora. Zollinger (1855), peneliti yang menghabiskan berapa bulan studi di Sumbawa pasca letusan, menyebutkan korban jiwa langsung letusan Tambora adalah 10.000 orang, ditambah 38.000 lainnya meninggal akibat kelaparan di Sumbawa dan 10.000 lainnya di pulau Lombok.

Tanguy et al (1998) menganalisis angka kematian langsung letusan Tambora sekitar 11.000 dan 49.000 korban lain akibat kelaparan termasuk kelaparan yang terjadi di Bali dan Jawa Timur. Sedangkan Oppenheimer (2003) menyebutkan total kematian akibat bencana Tambora adalah 71.000.

SELANG 200 TAHUN, “Saya minta agar ini dijaga dan dirawat jangan sampai ada yang dirusak,” ujar Presiden Joko Widodo saat meresmikan Taman Nasional Tambora.

Presiden Jokowi menandatagani prasasti Taman Nasional Tambora, di Dompu, NTB, Sabtu (11/4). (Gambar : Setgab.do.id)

Presiden juga mengatakan agar festival Tambora digelar setiap tahun untuk meningkatkan daya tarik daerah bagi para wisatawan. “Saya ingin titip peringatan dua abad meletusnya Gunung Tambora agar setiap tahun jadi promosi pariwisata di Bima, Dompu, setiap tahun ada Festival Tambora yang biayai pemerintah pusat semua biar tahu di mana Dompu, Bima dan NTB dan di mana Indonesia,” katanya.

Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Siti Nurbaya, juga mengatakan, momen ini penting untuk mengenang gunung yang superior ini. “Gunung Tambora menyimpan sejarah kedahsyatan letusan pada April 1815 dan berdampak ke seluruh penjuru dunia, dimana abu vulkaniknya menyebar hingga menggelap-gulitakan dunia, hingga setahun kemudian dunia mengalami tahun tanpa musim panas (year without summer),” ungkap Siti.

Sementara itu, Airf Hidayat, salah satu pegawai Kehutanan di NTB saat diwawancarai oleh medialingkungan.com mengatakan bahwa adanya Taman Nasional Gunung Tambora akan membuka akses lapangan pekerjaan untuk warga sekitar. “Tambora akan jadi peluang pekerjaan, namun semoga tidak terjadi konflik anatara masyarakat yang berada pada kawasan taman nasional dengan petugas Taman Nasional Tambora,” katanya.

Acara Tambora Menyapa Dunia ini digunakan sebagai momentum, khususnya bagi Pemerintah NTB untuk mempopulerkan aset yang besar ini guna menjaring wisatawan domestic dan mancanegara untuk berwisata di Tambora.

Selain itu, Presiden Jokowi juga meresmikan puncak kegiatan budaya dan pariwisata Tambora Menyapa Dunia (TMD). Peresmian ditandai dengan pemukulan lesung oleh Presiden Joko Widodo didampingi oleh Menteri Pariwisata Arief Yahya, Menteri Kehutanan dan Lingkungan Hidup Siti Nurbaya, Gubernur Nusa Tenggara Barat Muhammad Zainul Majdi, dan Bupati Dompu Bambang M Yasin. (Fahrum Ahmad)


Redaksi Medialingkungan.com

Related post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *