12 Tahun Yang Akan datang, Konawe Akan Mengalami Krisis Air

 12 Tahun Yang Akan datang, Konawe Akan Mengalami Krisis Air

Debit sungai yang kian mengecil akibat laju kerusakan hutan. Foto: Yoshasrul/suarakendari.com


MEDIALINGKUNGAN.COM– Kerusakan pada sektor kehutanan berdampak buruk pada kondisi daerah aliran sungai di wilayah daratan Sulawesi Tenggara, Kabupaten Konawe.Di daerah perlintasan Sungai Konaweeha ini, yang ditandai penurunan debit air sejumlah sungai dari tahun ke tahun.

Misalnya di wilayah Kabupaten Konawe, laju kerusakan hutan mencapai 1000 hektar per tahun. Dari fakta itu, diprediksi 12 tahun atau sekitar Tahun 2026 Kabupaten Konawe akan mengalami krisis air. Hal ini didasarkan pada hasil penelitian dari Fakultas Kehutanan Universitas Haluoleo.

“Potensinya sangat besar dan diprediksi ini mendekati kenyataan mengingat  laju penurunan luasan kawasan hutan dari tahun ke tahun sangat cepat dan besar,”kata, Labaco S, guru besar Faktultas Kehutanan, Universitas Haluoleo dalam sebuah diskusi dengan sejumlah jurnalis yang tergabung dalam Aliansi Jurnalis Independen, berapa waktu lalu.

Labaco yang merupakan Ketua Forum Daerah Aliran Sungai (DAS) Sulawesi Tenggara, melanjutkan, potensi tersebut belum dihitung dengan rencana pembangunan bendungan Pelosika yang kini tengah dirintis pembangunannya di wilayah Kabupaten Kolaka Timur. Dengan dibangunanya bendung pelosika, maka akan lebih mempercepat  lagi terjadinya krisis air.

Data Forum DAS terdapat sekitar 722 DAS di Sulawesi Tenggara yang seluruhnya dalam kondisinya memprihatinkan akibat ancaman alih fungsi hutan.

“Ancaman kerusakan harus diwaspadai, penomena banjir dan musim kering yang terjadi saat ini merupakan dampak. Contoh lain adalah yang terjadi di DAS Wanggu, meski hujan hanya hujan satu jam, warna air sungai langsung berubah sudah keruh, padahal seharusnya jika melihat bentang panjang sungai dari kawasan hulu ke hilir, maka seharusnya air sungai akan keruh jika hujan turun antara 6-7 jam,” jelasnya.

Kerusakan DAS, kata Labaco akan berimplikasi pada ketersediaan air, khususnya ketersediaan Air tanah. Labaco berharap adanya beberapa hal yang harus terus dilakukan, yakni pentingnya rehabilitasi DAS rehabilitasi kondisi lahan, dan peningkatan ekonomi masyarakat serta perbaikan lingkungan.

“Saya kira, keseimbangan antara hulu, tengah dan hilir harus diperbaiki. Dan intinya harus bersatu semua komponen memperbaiki kondisi hutan kita,”imbaunya. (TAN)

Sumber: suarakendari.com

 


Redaksi Medialingkungan.com

Related post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *