Edukasi Tempat Sampah Terpilah Tanamkan Kepedulian Lingkungan Sejak Dini di SD 3 Bila Lagading
Akibat Kabut Asap, Terumbu Karang Terancam Mati
Kabut asap tebal kiriman dari Provinsi Riau sedang menyelimuti Kota Padang, Sumatera Barat (Gambar: Istimewa)
Medialingkungan.com – Sekilas, memang tak tampak pengaruh kabut asap yang menyelimuti Kota Padang, Sumatera Barat, terhadap ekosistem bawah laut yang berada di wilayah itu.
Pengamat terumbu karang dari Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Bung Hatta (UBH), Suparno, pada Rabu (15/10) mengatakan bahwa kabut asap tersebut menyebabkan masuknya cahaya matahari untuk aktivitas fotosintesis terumbu karang menjadi relatif rendah. Di samping itu, mangrove dan padang lamun maupun ekosistim pesisir lainnya akan terkena imbasnya.
“Kami masih ingat, akhir 2000 pernah terjadi kematian masal terumbu karang di perairan laut Sumbar, penyebabnya kabut asap yang menutupi sinar matahari masuk ke laut, sehingga memicu berkembangnya fitoplanton alga merah. Blooming fitoplankton tersebut menyebabkan kematian massal bagi terumbu karang,” ujarnya.
Terumbu karang memiliki sensitifitas yang tinggi jika terjadi ketidakseimbangan dalan sebuah ekosistem. Untuk melakukan fotosintesis, zooxanthela pada struktur tubuh terumbu karang membutuhkan cahaya yang cukup untuk memproduksi makanan terumbu karang. Pasalnya, jika terumbu karang tidak disuplai makanan, maka tempat bergantung hidup ikan-ikan ini akan mengalami pemutihan (coral bleaching) hingga akhirnya mati.
Tak hanya itu, kematian terumbu karang juga dipengaruhi suhu dalam air. Untuk batas toleransi suhu terumbu karang berkisar sekitar 30-31 derajat Celcius.
Suparno menyebutkan, dibutuhkan waktu bertahun-tahun untuk pertumbuhan terumbu karang itu kembali, sampai saat ini pertumbuhan kembalinya (recovery) baru diperkirakan sekitar 30 hingga 40 persen, jika blooming terjadi lagi, kondisinya akan kembali nol.
Lebih lanjut ia menjelaskan bahwa proses pertumbuhannya kembali bisa secara alamiah dan bantuan manusia, salah satu usaha untuk mempercepatnya adalah dengan metode transplantasi, tetapi itu hanya bisa dilakukan pada jenis dan spesies tertentu.
Menurutnya, jika kabut asap sampai hari ini masih berlangsung hingga tiga bulan kedepan, blooming fitoplanton dikhawatirkan dapat terjadi lagi.
Ia mengkhawatirkan pertumbuhan sekitar 10 ribuan transplantasi karang yang dilakukan di UKM Diving Proklamator UBH sejak 2013 yang tersebar di Pulau Sironjong Gadang Kawsan Mandeh, Taman Nirwana dan Pulau Pasumpahan Padang akan terganggu dan mati.
Terhadap bencana asap ini, Suparno sendiri sangat menyayangkan, semua orang hanya mempertimbangkan korelasi asap dengan kesehatan dan ekosistem daratan saja. Sedangkan upaya transplantasi 5000 karang yang berada di Pulau Sironjong Gadang, Kawasan Mandeh, yang dilaksanakan pemuda-pemuda dan masyarakat setempat yang sejauh ini mengalami pertumbuhan yang baik, tak mendapat respon yang baik. (MFA)