Bos Rambo Belum Terjerat Hukum

 Bos Rambo Belum Terjerat Hukum

Pawang monyet sementara beroperasi di jalan poros BTP, Makassar (Gambar: Angga pratama)


Medialingkungan.com – Pria dengan baju kaos oblong berwarna hitam dan bercelana pendek kusam, begitu asik memainkan monyet peliharaannya – Rambo – begitu ia menyebut monyetnya dengan seutas tali yang diikat pada leher. Pria lainnya menggunakan blankon, baju kaos berwarna putih, dan bercelana panjang hitam garis-garis merah berada tak jauh dari Rambo dengan fokusnya memainkan musik pengiring saat Rambo melakonkan perannya sebagai aktor utama dalam pentas topeng monyet di Jalan poros Bumi Tamalanrea Permai (BTP), pukul 20.35 Jum’at, Makassar (08/05) .

Menurut pria berbaju hitam yang tak ingin disebutkan namanya, monyet yang mereka pakai untuk mengkais pundi-pundi rupiah itu bukanlah miliknya, “tetapi diberikan oleh bos kami,” katanya.

Ia menambahkan, para pekerja yang senasib dengannya masih ada beberapa lagi. “Masing-masing pawang seperti saya, diberi dua ekor monyet untuk dipekerjakan,” jelasnya.

Berdasarkan wawancara langsung di lokasi pertunjukan topeng monyet, kedua pawang ini mengungkapkan bahwa profesi yang mereka lakoni saat ini semata-mata karena bingung ingin bekerja menjadi apa. “Kami bingung, tapi untung ada seorang bos yang menawarkan kami kerjaan sebagai pawang monyet meskipun penghasilan yang kami terima setiap hari tidak menentu.

Sementara itu, untuk memainkan lakon sebaik pertujukannya kali ini, satwa dilindungi ini dilatih agar piawai saat pentas, seperti membawa motor, memakai payung, dan bermain miniatur alat musik.

“Kalau untuk melatih monyet agar cepat pintar itu tergantung monyetnya, karena setiap monyet berbeda-beda, tetapi kalau si Rambo hanya dilatih 4 bulan saja – sudah pintar,” ujar pria yang bercelana pendek kepada Medialingkungan.com.

Pria yang menggunakan blankon tiba-tiba menyahut dan mengatakan bahwa sudah 5 bulan profesi ini mereka kerjakan. “Hanya melalui kerja seperti ini kami bisa makan, kalau tidak, kami bisa kelaparan,” ucapnya.

Kedua pawang ini juga mengungkapkan bahwa sebelum dilatih monyet-monyet itu dijinakkan dengan cara memotong taring agar tidak menginfeksi manusia dengan penyakit rabies. Cara melatih primata itu dilakukan dengan siksaan agar mereka mau mengikuti keinginan pawangnya. Kemudian, lanjut pawang, kandang monyet-monyet itu sangat sempit bahkan jarang dibersihkan.

Dalam aturan dijelaskan bahwa satwa yang dipekerjakan untuk mengemis atau diistilahkan topeng monyet melanggar UU No 5/1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya, serta Pasal 302 KUHP tentang kesejahteraan satwa. 

Dalam kasus ini, para pawang dan bosnya ini berpeluang terjerat UU No 5/1990 dengan beberapa uraian, yakni menangkap, melukai, membunuh, menyimpan, memiliki, memelihara, mengangkut, dan memperniagagakan satwa yang dilindungi dalam keadaan hidup.

Dari uraian ini maka setiap orang yang melakukan kejahatan-kejahatan tersebut akan dipidana dengan masa tahanan maksimal 5 tahun dan denda maksimal Rp100.000.000. (Angga Pratama)


Redaksi Medialingkungan.com

Related post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *