G-20 Turki Hasilkan Strategi Ketahanan Pangan Global Hadapi Perubahan Iklim

 G-20 Turki Hasilkan Strategi Ketahanan Pangan Global Hadapi Perubahan Iklim

Perwakilan seluruh kementerian pertanian anggota G-20 di Istanbul, Turki 6-8 Mei 2015. (Gambar : G-20.org)


Medialingkungan.com – Pertemuan seluruh menteri pertanian anggota G-20 di Istanbul, Turki, 6-8 Mei lalu ditutup manis dengan lahirnya pernyataan resmi (communique) antar negara anggota mengenai ketahanan pangan di tengah ancaman perubahan iklim. Anggota G-20 dikatakan mewakili sekitar 85 persen dari produk domestik bruto global dan lebih dari 75 persen perdagangan dunia.

Menteri Pertanian Amerika Serikat, Tom Vilsack mengapresiasi Menteri Pertanian Turki, Mehdi Eker atas upayanya yang baik sebagai tuan rumah dalam gelaran akbar G-20, dalam mengembangkan strategi untuk mencapai sistem pangan berkelanjutan dan untuk mengenali bagaimana mengurangi defisit makanan dan limbah demi keamanan pangan secara keseluruhan di seluruh dunia.  

“Saya percaya kami tiba di komunitas yang menjalankan tujuan utama dalam mencapai ketahanan pangan dunia. Keamanan pangan dan gizi merupakan prioritas utama untuk G-20 dan saya mendukung kerangka G-20 Keamanan Pangan dan Gizi 2014,” ujarnya dalam press rilis yang diterima medialingkungan.com dari Kementerian Pertanian Amerika Serikat (USDA).

Forum yang menghasilkan 14 pernyataan resmi (communique) itu mendorong komitmen para pemimpin global untuk mengembangkan kebijakan dan strategi untuk memastikan nutrisi yang cukup sebagai prasyarat untuk sumber daya manusia dan pembangunan masyarakat, produktivitas dan pertumbuhan ekonomi. Selain itu, forum itu juga dijadikan sebagai ajang promosi infrastruktur di bidang pertanian dan investasi dalam peningkatan produktivtas pertanian, khususnya bagi negara-negara berkembang yang berpenghasilan rendah (LIDCs).

Dr Mohamad Maliki Bin Osman, Menteri Negara Pembangunan Nasional dan Pertahanan Singapura yang menghadiri G-20 juga berbagi mengenai upaya Singapura dalam meminimalkan kerugian makanan dan limbah.

Menurut Maliki, Pemerintah Singapura berencana akan bertukar berbagai informasi mengenai penyakit hewan dan tumbuhan yang dapat berdampak pada keamanan pangan, kesehatan masyarakat, dan perdagangan.

Sementara itu, Menteri Pertanian Kanada, Gerry Ritz mengatakan pertemuan yang melibatkan 20 anggota itu membahas bagaimana mendukung sistem pangan yang berkelanjutan. Ia juga mengadakan pertemuan dengan menteri pertanian yang memegang peran kunci, untuk lebih meningkatkan aksibilitas pertanian Kanada dengan para mitra dagang.

Rumusan atau kerangka kerja anggota G-20 dari seluruh communique yang dihasilkan, memiliki satu fakta dan pandangan yang sama bahwa tidak ada ancaman yang lebih besar untuk generasi mendatang kecuali perubahan iklim.

Communique tersebut menuntut para pemimpin global agar mendorong pengembangan berbagai teknologi, termasuk bioteknologi pertanian, dan praktik yang merupakan bagian dari integrasi produksi pangan dan pengelolaan sumber daya alam yang membantu untuk mengurangi emisi gas rumah kaca, meningkatkan penyimpanan karbon, dan menghasilkan energi bersih dan terbarukan. (Fahrum Ahmad)


Redaksi Medialingkungan.com

Related post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *