Gerhana Bulan Merah Darah Indikator Polusi Udara yang Buruk

 Gerhana Bulan Merah Darah Indikator Polusi Udara yang Buruk

Gerhana bulan merah darah yang terjadi di Indonesia (Gambar: Fadly juanda)


Medialingkungan.com – Fenomena Gerhana Bulan Total yang terjadi di beberapa wilayah Indonesia terlihat berbeda dari gerhana bulan biasanya. Dalam kejadian tersebut, warna bulan terlihat berubah menjadi warna merah darah.

Namun, dibalik keindahan warnanya yang menarik perhatian banyak orang, perubahan warna bulan tersebut merupakan indikator kualitas udara di suatu kota/wilayah yang mengkhawatirkan.

Astronom sekaligus Narator Planetarium dan Observatorium Jakarta, Cecep Nurwendaya mengatakan, semakin merah warna gerhana bulan, semakin pekat pula polusi udara yang berada di atmosfer suatu wilayah itu.

“Semakin serius polusi udara di suatu tempat, semakin merah pula warna bulan pada saat gerhana bulan total terjadi. Jadi jika warna bulannya merah kita harusnya bersedih,” ujar Cecep di Gedung Planetarium, Taman Ismail Marzuki Cikini, Jakarta Pusat, seperti yang dilansir oleh Tribunnews.com (04/04).

Warna merah yang ditimbulkan oleh gerhana bulan total disebabkan oleh polusi yang terdiri dari gas dan debu yang mempunyai sifat dan ciri khas memerahkan cahaya (reddening). Peristiwa tersebut serupa dengan ketika terbenamnya matahari dan ketika terjadi letusan gunung berapi, abu dari gunung berapi itu menutup langit dan akan memerahkan matahari, katanya.

Menurut Cecep, gerhana bulan yang terjadi merupakan fase ketiga dari gerhana bulan yang dinamai Tetrad. Sebelumnya, Fase pertama terjadi pada 15 April 2014 dan yang kedua pada 8 Oktober 2014 lalu. Ia menambahkan, tetrad ini akan sempurna dengan fase keempat yang akan terjadi pada 28 September 2015 mendatang. (Dedy)


Redaksi Medialingkungan.com

Related post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *