Kebun Binatang dan Akuarium Jepang Dibekukan Pasca Voting

 Kebun Binatang dan Akuarium Jepang Dibekukan Pasca Voting

Pertunujukan lumba-lumba di Akurium Jepang (Gambar: Koji Sasahara)


Medialingkungan.com – Kebun binatang dan akuarium di Jepang tidak akan lagi membeli lumba-lumba yang ditangkap melalui cara berburu – pasca Asosiasi Kebun Binatang dan Akuarium Dunia (WAZA) menginisiasi untuk mengadakan voting pada Rabu (20/05), untuk menghentian penggunaan lumba-lumba yang ditangkap melalui drive-hunt (metode menangkap lumba-lumba dengan menyudutkan mereka ke daratan) di perairan Taiji, lokasi para pemburu mengumpulkan lumba-lumba dengan menggunakan perahu, bahkan membunuh sebagian besar dari mereka. WAZA membekukan cabang mereka di Jepang (JAZA) sejak bulan lalu.

Jepang mendapatkan hujatan dunia ketika film dokumenter yang meraih piala Oscar (2009) “The Cove” merekaman banyak periwtiwa yang menunjukkan satwa ini diarak ke teluk dan dibantai dengan pisau bak pembantaian hewan secara massal, dan menyebabkan air laut menjadi merah karena darah.

Menyambut baik kebijakan ini, Aktivis anti-perburuan mengangggapi bahwa hal ini adalah babak baru untuk mengakhiri praktik-praktik perburuan lumba-lumba dengan drive-hunt. Menurut Para aktivis, beberapa lumba-lumba yang hidup dijual seharga US$ 100.000.

Hasil pemungutan suara menunjukkan 99 dari 152 anggota memilih untuk tetap menjadi bagian dari WAZA atau setuju dengan larangan mengambil ikan dari metode penangkapan tersebut.

“JAZA akan melarang anggotanya untuk memperoleh lumba-lumba liar yang tertangkap oleh drive-fishing di Taiji dan akan ikut mengambil bagian dalam ekspor dan penjualan mereka”, seperti yang ditulis ketua JAZA, Kazutoshi Arai, dalam sebuah surat kepada WAZA, menyusul hasil pemungutan suara tersebut, seperti dilansir WahingtonPost.

“Berbagai fasilitas (kebun binatang dan akuarium) harus bekerja sama untuk memajukan program pembiakan”, tambah Arai.

Sebelumnya, Executive Director dari JAZA, Kensho Nagai mengatakan, “kami mengambil sekitar 20 lumba-lumba dari Taiji setiap tahunnya, namun kita telah memperbaiki cara berburu kita, dengan memisahkan buruan dari hal apapun yang ada di Taiji untuk mendapatkan daging lumba-lumba.”

Menurut Sea Shepherd, kelompok konservasi yang mengamati jumlah lumba-lumba yang tewas dalam perburuan mengatakan tingginya biaya hidup lumba-lumba menjadi pemicu utama dari perburuan tersebut. Dikabarkan bahwa lebih dari 15.000 lumba-lumba telah tewas di Kepulauan Solomon mendorong dari hasil perburuan itu.

“Pengumuman ini membawa berita besar atas lumba-lumba di Taiji, bahwa terdapat uang dibalik pembantaian yang mengubah perairan teluk merah dengan darah,” kata kelompok aktivis di sebuah pernyataan.

Sementara itu, Sarah Lucas, CEO of Australia for Dolphins mengatakan dalam pernyataan resminya, “Keputusan penting ini menandai awal dari akhir untuk perburuan lumba-lumba di Jepang.”

Sekretaris Jenderal JAZA, Naonori Okada memprediksi bahwa sekitar 30 anggota JAZA memiliki total sekitar 250 lumba-lumba di akuariumnya, meskipun tidak diketahui berapa banyak yang diperoleh dari Taiji, namun dikabarkan akuarium Jepang telah membeli rata-rata 20 lumba-lumba dari kota itu setiap tahun.

Selama musim berburu dalam rentang tahun 2014-2015, pemburu lumba-lumba diperkirakan menangkap 1.084 satwa – 751 yang tewas, 80 dijual ke akuarium, dan sisanya dibebaskan. (Fahrum Ahmad)


Redaksi Medialingkungan.com

Related post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *