Edukasi Tempat Sampah Terpilah Tanamkan Kepedulian Lingkungan Sejak Dini di SD 3 Bila Lagading
Memasuki Fase Adaptabilitas, Keragaman Genetik Hutan Kini dalam Ancaman Besar
Hutan Hujn Tropis Asia (gambar:medialingkungan)
Medialingkungan.com — Pusat Penelitian Kehutanan Internasional (CIFOR) mencatat, keragaman materi genetik pohon berada ancaman kepunahan akibat laju deforestasi dan kehutanan monokultur — yang menempatkan penghidupan jutaan masyarakat bergantung pada hutan kini berada dalam ancaman resiko terbesar.
Menurut laporan terbaru dari Oragnisasi Pangan dan Pertanian PBB (FAO), spesies pohon hutan telah berevolusi menjadi organisme paling bervariasi secara genetik di Bumi — memainkan peran krusial dalam meningkatkan industri terkait hutan, adaptasi perubahan iklim, sumber daya pangan, ketahanan terhadap penyakit, dan dan hama.
“Hutan memainkan peran penting dalam mitigasi perubahan iklim, tetapi sering dilupakan bahwa hutan hanya bisa memerankan itu ‘jika’ hutan bisa beradaptasi terhadap berubahnya kondisi lingkungan,” kata Riina Jalonen, ilmuwan mitra Bioversity International, pada diskusi panel Pertemuan Puncak Forests Asia di Jakarta.
“Keragaman genetik adalah sesuatu yang menyediakan material seleksi alami,” kata Jalonen.
Berdasarkan laporan nasional dari 86 negara, FAO dan Boidiversity Internasional menerbitkan sebuah laporan mengenai “Rancangan prioritas strategis untuk aksi konservasi, pemanfaatan berkelanjutan dan pengembangan sumber genetik” melengkapi “Kondisi Sumber Genetik Hutan Dunina”.
Bertahankah keragaman di masa depan
Mendokumentasi atau menginventarisir, menjaga dan mengembangkan keragaman sumber genetik hutan dunia penting untuk menjamin bahwa hutan bisa terus menyediakan pangan, serat, kayu dan jasa lingkungan.
Para panelis forum menilai, hal yang demikian jelas memainkan peran kunci dalam meletakkan kerangka kerja rehabilitasi lahan terdegradasi, peningkatan penghidupan dan adaptasi perubahan iklim.
Melalui rilis CIFOR yang dikirim ke redaksi medialingkungan disebutkan bahwa data terakhir pada rencana aksi FAO menunjukkan jumlah spesies pohon pada hutan sekitar 80.000 hingga 100.000. Rencana tersebut juga mencatat tambahan 14 juta orang bekerja di sektor kehutanan, dan lebih banyak lagi bergantung langsung pada hutan dan produk hutan untuk penghidupan mereka.
“Sekitar 80 persen masyarakat negara berkembang menggunakan produk hutan bukan kayu untuk memenuhi kebutuhan kesehatan dan nutrisi serta pendapatan,” ungkap laporan tersebut,
FAO juga menambahkan bahwa lebih dari 2 miliar masyarakat miskin bergantung pada bahan bakar berbasis kayu.
Terminologi sumber genetik hutan merujuk pada “keragaman genetik spesies pohon hutan saat ini atau nilai potensi kemanusiaan,” kata Judy Loo, ketua tim Bioversity untuk Konservasi dan Pemanfaatan Berkelanjutan Hutan dan Sumber Daya Genetik Hutan, pada diskusi panel, yang fokus pada implementasi rencana aksi.
Loo mencontohkan, Adalah Cherimoya, bertindak sebagai tanaman agroforestri — pohon buah bernutrisi dan populer di Amerika latin sementara ini masih dalam tahap awal domestifikasi, dan menyimpan potensi komersial sangat besar.
Namun, besarnya keragaman sumber genetik cherimoya yang memungkinkan pohon ini bertahan dalam beragam kondisi iklim dan sanggup memproduksi beragam kualitas pangan, tidak menjamin kontinuitas di masa depan karena harus menanggung efek deforestasi dan inbreeding.
Kondisi tersebut tak ayal membuat pohon ini rentan terhadap kepunahan, bahkan Loo dengan tegas menyatakan sangat berisiko terancam punah.
Menurutnya, menjaga sumber genetik bisa melahirkan varietas lebih tahan hama, lebih produktif, lebih bernutrisi untuk dikonsumsi atau dijual. Ia juga mencatat bahwa aplikasi serupa bisa dilakukan bagi produk potensial termasuk pangan, kayu dan obat.
Paradoks restorasi hutan
Senada dengan Loo, Jalonen mengungkapkan, melindungi dan meningkatkan sumber genetik hutan juga krusial untuk merestorasi lahan terdegradasi dan beradapatasi terhadap perubahan iklim.
Jalonen memberi contoh proyek restorasi pesisir di China yang bergantung pada benih dari hutan kecil daratan.
Hasilnya – ketidaklayakan restorasi lahan terdegradasi dan menyia-nyiakan sumber daya. Bahkan, kegagalan yang mengarah pada paradoks dalam laporan hasil proyek restorasi. Pasalnya, kurangnya keragaman genetik benih menurunkan tingkat hidup pohon yang ditanam.
“Lebih sering kita gagal, lebih banyak benih kita tanam – seperti kita terus menanam di area yang sama berulang-ulang,” katanya.
Setiap laporan proyek reforestasi seharusnya mencatat lebih dari sekadar wilayah tutupan atau jumlah pohon ditanam, katanya.
“Kita perlu mengevaluasi proyek restorasi juga dalam terminologi kualitas materi ditanam dan keberhasilan keberlangsungan produksi keragaman dan ketahanan lingkungan,” ungkapnya Jalonen.
Preservasi genetik
Panduan mengenai sumber genetik hutan di lahan restorasi, diterbitkan bersamaan dengan laporan FAO, bertujuan menginformasi para praktisi bagaimana mencegah gagalnya upaya restorasi, seperti contoh di China.
Dalam rilis itu Loo menyeloroh bahwa panduan tersebut akan memberi pelajaran sebagai kunci — bagaimana meningkatkan keberhasilan untuk Target Keragaman Aichi, yang dibuat di bawah Konsvensi Keragaman Hayati — secara spesifik tercantum dalam ‘Tujuan 15’, dengan memuat tujuan untuk merestorasi 15 persen lahan terdegradasi pada 2020 – termasuk dari proyek yang telah berlangsung, kata Loo.
“Satu aspek terpenting implementasi “Rencana Aksi Global adalah daftar aksi atau prioritas untuk diintegrasikan dalam strategi dan program lain yang telah ada … pada tingkat nasional, regional dan global, karena sumber genetik hutan tidak dapat secara efektif dilindungi dan dikelola secara terisolasi,” kata Loo.
Anggota panel menyimpulkan bahwa prioritas strategi diletakkan dalam Rencana Aksi Global seharusnya diintegrasikan dalam kerangka kebijakan nasional.
Lebih jauh, mereka berpendapat bahwa sumber daya secara global maupun tingkat nasional seharusnya didedikasikan untuk menjalankan prioritas tersebut, bagi masa depan sumber genetik hutan dan masyarakat serta ekosistem yang bergantung padanya (hutan). (MFA)