PLTU Batubara Jepang Berpotensi Sebabkan Kematian Dini

 PLTU Batubara Jepang Berpotensi Sebabkan Kematian Dini

Ekspansi besar-besaran Jepang melalui teknologi batubara untuk menggantikan tenaga Nuklir {Gambar: Bloomberg}


Medialingkungan.com – Menurut sebuah studi, rencana Jepang dalam membangun puluhan stasiun pembangkit listrik bertenaga batubara dapat menyebabkan ribuan kematian dini dan menurunkan angka kelahiran akibat polusi udara.

Peringatan itu datang setelah pertemuan yang dilakukan para menteri lingkungan G7 di Toyama akhir pekan lalu, yang ditutup pada hari senin (16/05).

Jepang adalah satu-satunya negara di antara negara-negara G7 yang mengejar proyek batubara, setidaknya 43 pabrik akan dibangun selama 12 tahun ke depan, hal ini seakan meruntuhkan kesepakatan Iklim di Paris tahun lalu.

“Enam pembangkit listrik bertenaga batubara direncanakan akan dibangun  100 km dari Tokyo. Ekspansi pembangkit listrik batubara besar-besaran yang begitu dekat dengan daerah perkotaan, seperti Tokyo merupakan ide gila, ” kata Lauri Myllyvirta, juru kampanye batubara Greenpeace seperti yang dilansir Theguardian.

Proyek ini diperkirakan dapat berdampak buruk pada kesehatan masyarakat akibat paparan PM2.5 dan NO2, bisa saja sekitar 6.000 sampai 15.000 orang akan meninggal prematur di daerah Tokyo dalam kurun waktu 40 tahun.

Pembangkit listrik yang akan ditempatkan di Jepang barat dekat Osaka dan Hyogo dapat menyebabkan 4.000-11.000 kematian dini selama periode yang sama.

Berbeda dengan AS, Inggris dan negara-negara maju lainnya yang meninggalkan batubara, Jepang telah beralih ke bahan bakar fosil untuk mengisi kebutuhan energi akibat penutupan puluhan pembangkit listrik tenaga nuklir Fukushima Daiichi Maret 2011 lalu.

“Kita bisa menyelamatkan ribuan nyawa dari bahaya polusi udara jika pemerintah lebih memilih energi terbarukan yang lebih baik dibandingkan batubara. Jika kita memiliki kesempatan untuk membatasi kenaikan suhu rata-rata global 1,5 derajat, bahan bakar fosil harus disimpan di dalam tanah, tidak dipompa ke udara di atas kota-kota kita “. tutur Lauri Myllyvirta. {Mirawati}


Redaksi Medialingkungan.com

Related post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *