Edukasi Tempat Sampah Terpilah Tanamkan Kepedulian Lingkungan Sejak Dini di SD 3 Bila Lagading
Puspijak: Sektor Kehutanan Penyumbang Emisi GRK Terbesar
Ilustrasi kondisi emisi GRK pada sektor kehutanan (Gambar: desmond)
Medialingkungan.com – Sektor kehutanan di Indonesia menyumbangkan emisi gas rumah kaca (GRK) sebesar 48 persen, yang menjadikannya penyumbang terbesar dibanding dengan sektor lainnya.
Hal tersebut diungkapkan oleh Tim Peneliti dari Pusat Penelitian dan Pengembangan Perubahan Iklim dan Kebijakan (Puspijak), dalam sebuah publikasinya yang berjudul ‘Sintesis Penelitian Integratif Pengembangan Perhitungan Emisi Gas Rumah Kaca Kehutanan (Inventory)’.
Kehutanan yang dalam konteks perubahan iklim dimasukan dalam kategori Land use, land use change and forestry (LULUCF), kemudian lebih dikenal dengan istilah Agriculture, Foretsry and Land Use (AFOLU).
Tim Peneliti Puspijak menyebutkan estimasi perhitungan dengan business as usual (BAU), tingkat emisi dari kehutanan pada tahun 2020 nanti sebesar 525 juta ton CO2, dengan upaya mitigasi penanaman dan penurunan laju deforestasi pada tahun 2020 sektor kehutanan menyumbang emisi sebesar 334.1 juta ton CO2. Angka tersebut belum termasuk emisi dari kebakaran gambut.
Berdasarkan hasil kajian yang diterapkan terhadap skenario emisi BAU tersebut, diketahui kontribusi emisi terbesar dari deforestasi dan degradasi.
Mereka menjelaskan kalau deforestasi masih akan terjadi karena perkembangan jumlah penduduk dan kepentingan pembangunan seperti pengembangan perkebunan dan pertanian, pemekaran wilayah, pertambangan dan pemukiman.
“Hasil kajian ini menunjukkan kisaran deforestasi tahunan BAU mencapai 700.000 sampai 1.500.000 ha per tahun. Sedangkan BAU penanaman berkisar antara 150.000 – 300.000 ha per tahun. Opsi penentuan BAU sangat tergantung dari ketersediaan data serta asumsi yang digunakan,” ucap Peneliti Puspijak.
Mereka juga menegaskan perlunya tindak lanjut kebijakan dan kegiatan serta dana yang mendukung upaya penanaman dan penurunan laju deforestasi. (Irlan)