Edukasi Tempat Sampah Terpilah Tanamkan Kepedulian Lingkungan Sejak Dini di SD 3 Bila Lagading
Riset di NY Temukan Hubungan Antara Polusi Udara dan Autism
Salah satu distrik perkotaan di New York (gambar:dok)
Medialingkungan.com – Riset di University of Rochester Medical Center, New York, dalam sebuah artikel di Nature news world dituliskan bahwa peneliti telah menemukan bahwa paparan polusi udara dapat menyebabkan perubahan dalam otak tikus. Model tes ini menunjukkan adanya pembesaran area otak yang sama oleh pengidap skizofrenia atau autisme.
Penelitian ini telah menunjukkan bahwa partikel ultrafine pada polusi dapat tertanam dalam paru-paru dan menyebabkan masalah kesehatan pada tubuh. Bahkan, Badan Penelitian Kanker Internasional (IARC) baru-baru ini mengklasifikasikan polusi udara luar sebagai karsinogen. Penelitian ini melihat efek dari partikel-partikel kecil di otak tikus muda yang ditengarai sama dengan indikasi yang dilihat pada pasien autis.
“Temuan kami menambah semakin banyak bukti bahwa polusi udara mungkin memainkan peran dalam autisme, serta gangguan perkembangan saraf lainnya,” kata Deborah Cory-Slechta, Ph.D, profesor Kedokteran Lingkungan di University of Rochester dan memimpin penulis studi, menurut sebuah rilis berita.
Untuk penelitian ini, para peneliti menggunakan tikus yang baru lahir dan dibiarkan terkena polusi polusi udara. Hewan-hewan ini dibiarkan terkena udara yang tidak sehat selama sekitar empat jam setiap hari selama sekitar delapan hari.
Para peneliti memeriksa otak dari satu set tikus setelah 24 jam. Mereka menemukan peradangan di hampir semua wilayah otak. Ventrikel lateral yang merupakan ruang cairan yang mengandung cerebrospinal, dua sampai tiga kali lebih besar daripada yang terlihat pada otak normal.
“Ketika kita melihat dekat pada ventrikel, kita bisa melihat bahwa materi putih yang biasanya mengelilingi mereka belum sepenuhnya berkembang,” kata Cory-Slechta. “Tampaknya bahwa peradangan telah merusak sel-sel otak dan mencegah bahwa wilayah otak berkembang, dan ventrikel hanya diperluas untuk mengisi ruang.”
Peradangan pada otak tikus terlihat setelah terpapar polusi udara selama 40 hingga 270 hari, dan menunjukkan bahwa kerusakan itu telah mencapai tahap permanen. Selain itu, para peneliti menemukan peningkatan kadar glutamate pada tikus itu juga sama yang terlihat pada manusia yang mengidap autisme. (MFA)