Suhu India Bak Berada dalam Oven, 1.118 Orang Tewas

 Suhu India Bak Berada dalam Oven, 1.118 Orang Tewas

Badan Meteorologi India memprediksi gelombang panas yang parah akan terus di beberapa negara. (Gambar: AFP)


Medialingkungan.com – Gelombang panas tidak biasa yang menerjang India saat ini sudah menewaskan 1.118 orang hingga Selasa (27/05) dan masih berpeluang terus bertambah. Mayoritas korban yang tewas merupakan warga miskin, pengemis, tunawisma, serta pekerja konstruksi (kuli) yang bekerja di luar ruangan, yang berpotensi besar terkena pancaran matahari langsung dengan rata-rata suhu maksimum mencapai 47 derajat Celcius.

Gelombang panas yang melanda India berlangsung sejak pertengahan April. Namun, hampir semua kematian terjadi pada satu pekan terakhir. Dikabarkan bahwa suhu terpanas ini memecahkan rekor – dengan suhu udara di Hyderabad yang mendekati 50 derajat Celsius.

Direktur Badan Meteorologi India, B.P Yadav mengatakan, udara panas dan kering diperparah hembusan angin yang berasal dari Pakistan. “(Udara) panas ekstrem dan kering ini dihembuskan ke India dari angin barat,” kata Yadav, dikutip dari CNN.

Menurutnya, lokasi yang terparah terkena adalah wilayah Andhra Pradesh, di tenggara India, di mana pihak berwenang mencatat terdapat 852 orang tewas. Sementara 266 lain tewas di negara bagian tetangga, di Telangana.

Badan meterologi juga memprediksi, gelombang panas ini masih terus berlangsung hingga beberapa hari ke depan, dan berpotensi mendatangkan gelombang panas berikutnya.

Dikabarkan bahwa kebanyakan korban tewas akibat sengatan panas atau mengalami dehidrasi ekstrem. Untuk menghindari sengatan matahari, warga diimbau tidak melakukan aktivitas di jalan-jalan. Selain itu, pertokoan juga tutup pada siang hari dan masyarakat diimbau untuk banyak mengkonsumsi air.

Pemerintah setempat berupaya mengimbau masyarakat melalui media massa. “Pemerintah meminta anggota masyarakat untuk tidak keluar rumah tanpa penutup kepala. Masyarakat juga diminta untuk selalu membawa air minum,” kata P Tulsi Rani, pejabat yang membidangi mitigasi bencana, seperti dikutip kantor berita AFP.

Badan Meteorologi India juga memperkirakan, terhitung sejak Kamis (28/05) udara panas di India akan disertai angin topan dan badai pasir hingga sepekan ini.

Pemerintah telah meminta sejumlah organisasi untuk mendirikan dan menyediakan pos-pos air, agar warga tidak mengalami dehidrasi. Suhu udara yang tinggi diperkirakan akan berlanjut hingga akhir bulan.

Musim hujan di India akan memberikan sedikit bantuan, tetapi hujan diproyeksikan baru akan turun satu pekan lagi. Setelah gelombang panas menghantam pantai tenggara India, kemungkinan besar beberapa pekan lagi gelombang panas akan mencapai bagian utara India yang lebih kering.

Gelombang panas ini dikatakan bukan hal baru di negara itu, hanya saja manjadi lebih intens dan lebih sering. Selain negara-negara bagian di selatan India, negara-negara bagian di utara India, seperti Rajasthan dan Haryana, kini sudah pulih dari terjangan gelombang panas yang intensif seperti di ibu kota India, New Delhi.

Menurut Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika Edvin Aldrian, gelombang panas di India dipicu oleh angin panas dari padang pasir Iran dan Afganistan melalui laut Arab. Angin panas tersebut tertahan di Pegunungan Himalaya sehingga bertahan lama di kawasan India. “Blocking udara panas inilah yang menewaskan banyak korban jiwa,” ujar Edvin.

Dilansir dari Kompas, cuaca ekstrem ini merupakan dampak dari tertahannya fenomena Gelombang Rossby. Gelombang massa udara di atmosfer ini bergerak melingkar di wilayah kutub hingga subtropis. Pergerakannya ke arah timur tanpa putus bak “ban berjalan”. Jika pergerakannya terganggu, akan muncul cuaca ekstrem seperti yan tejadi di India saat ini. (Fahrum Ahmad)


Redaksi Medialingkungan.com

Related post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *