Edukasi Tempat Sampah Terpilah Tanamkan Kepedulian Lingkungan Sejak Dini di SD 3 Bila Lagading
DNA Beruang Kutub Ditemukan pada Jejak Kakinya
Medialingkungan.com – Ilmuan dari World Wide Fund (WWF) dan perusahaan populasi genetik Perancis SPYGEN sedang mengumpulkan DNA jejak kaki berung kutub yang dinggalkan saat mereka berjalan melewati salju. Saat ini, untuk petama kalinya, ilmuan dapat mengambil DNA itu dan menggunakannya untuk lebih mengetahui beruang tersebut.
Data tersebut dapat berguna untuk beberapa keperluan. Arnaud Lyet, seorang ahli ekologi dan ketua program WWF, mengungkapkan “ada peningkatan konflik antara beruang kutub dan manusia. Dalam situasi beruang melawan desa, apa yang akan kamu lakukan jika mengetahui satu individu melawan 5 sampai 10 beruang dengan sebuah desa.”
Sampel jejak salju pertama dikumpulkan di Svalbard, Norwegia dan ternyata mengandung DNA dari beruang kutub, anjing laut, dan burung camar. Tim lapangan telah melihat hewan-hewan tersebut ada di dekat mereka saat mengumpulkan sampel jejak kaki beruang.
Dalam sebuah pernyataan pers, Lyet juga menggaris bawahi, “Metode ini dapat menjadi alat yang tidak ternilai untuk konservasi biologi.”
Dia menjelaskan metode jejak DNA dapat membantu mengganti metode yang lebih mahal untuk melacak populasi beruang kutub di habitat liarnya.
Ahli ekologi dapat menangkap, dan menandai individual atau mengumpulkan contoh bulu dan feses untuk menganalisis DNA. Tapi sulit untuk memukan bahkan menangkap binatang-binatang yang tinggal di area terpencil, dan jarang mememukan sampel bulu yang baik.
Jejak kaki, di sisi lain, tersedia sangat banyak dan salju mengawetkan DNA dengan baik. Metode ini dapat menghemat uang dan waktu.
Walaupun sekarang para ilmuan sedang fokus pada beruang kutub, mereka berharap penelitian selanjutnya dapat dilakukan pada harimau Amur dan macan tutul yang sulit dipahami di siberia. WWF menargetkan untuk mempublikasikan hasil penelitiannyapada pada akhir tahun.
Lyet mengatakan agar sebuah sampel dapat digunakan untuk mengidentifikasi binatang, “DNA yang terkandung didalamnya haruslah dalam kualitas baik. Teknik ini masuk akal untuk hewan berpopulasi sedikit” seperti beruang kutub atau harimau. (MFA)