Bank Hapuskan Pinjaman Untuk Bisnis Tambang Batubara di Kaltim

 Bank Hapuskan Pinjaman Untuk Bisnis Tambang Batubara di Kaltim

Aktifitas penambangan batu bara di Kalimantan Timur {Gambar: dok}


Medialingkungan.com ­­– Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mengumumkan bahwa bank harus menghentikan pinjaman untuk proyek-proyek pertambangan di Kalimantan Timur pada Rabu (17/02). Ini disebabkan oleh harga batubara yang terus turun, sehingga dinilai terlalu beresiko untuk berinvestasi dalam proyek-proyek batubara.

Keputusan ini merupakan aturan perbankan pertama yang melarang pembiayaan untuk pertambangan batubara berdasarkan eksposur kredit industri. Beberapa bank di Indonesia sudah diketahui terkena kredit macet di pertambangan batubara, baik secara langsung atau tidak langsung melalui kredit konstruksi untuk proyek-proyek pertambangan.

Sebagian besar paparan kredit macet di Kalimantan Timur adalah penambang skala kecil dan menengah. Mereka lebih cenderung dibiayai oleh bank-bank Indonesia, karena perusahaan yang lebih besar memiliki akses ke pasar modal dan Internasional.

Kepala OJK Kalimantan Timur (Kaltim) Dedi Satria menjelaskan, lesunya bisnis batubara membuat lembaga pengawas jasa keuangan memerintah bank untuk tidak lagi memberikan kredit.

“Bukan lagi mengurangi, kita stop dulu. Salah satunya kepada BPD (Bank Pembangunan Daerah) Kaltim. Bagaimana mau memberi kredit, yang sudah diberi kredit saja banyak yang macet,” ujar Dedi usai acara pertemuan tahunan OJK dengan pelaku industri dan jasa keuangan di Lamin Etam, Selasa (16/02) seperti yang dilansir Sindonews.

Kalimantan Timur, mengandung 28% dari total cadangan batubara Indonesia. Areal seluas negara Swiss tersebut telah dialokasikan untuk pertambangan di seluruh provinsi, dengan mengakibatkan kerusakan hutan yang masif, pencemaran persediaan air, dan perpindahan masyarakat setempat.

“Ini menjadi pukulan penuh terhadap ambisi batubara Indonesia, dan memberikan dampak hidup kepada ribuan orang di Kalimantan Timur yang hidupnya telah hancur oleh industri pertambangan batubara”, ujar Arif Fiyanto, Juru Kampanye Regional Iklim dan Energi Greenpeace Indonesia. {Muchlas Dharmawan}


Redaksi Medialingkungan.com

Related post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *