Greenpeace dan Harvard Ungkap Masalah Kematian Akibat PLTU Batubara

 Greenpeace dan Harvard Ungkap Masalah Kematian Akibat PLTU Batubara

Aksi penolakan PLTU di Batang (Gambar: tempo)


Medialingkungan.com – Greenpeace bersama Harvard mengeluarkan sebuah laporan yang berjudul ‘Ancaman Maut PLTU Batubara’ terkait penyakit dan kematian yang diakibatkan pembangkit listrik tenaga batu bara (PLTU) di Indonesia, Jakarta.

PLTU batubara di Indonesia menyebabkan sekitar 6,500 jiwa kematian prematur setiap tahun. Jumlah ini bisa naik hingga 15,700 jiwa per tahun jika pemerintah Indonesia meneruskan peluncuran rencana ambisius lebih dari seratus pembangkit listrik tenaga batubara yang baru.

Angka-angka mengkhawatirkan ini didasarkan pada model atmosfer baru yang dilakukan oleh tim peneliti dari Universitas Harvard, menggunakan model atmosfer transport-kimia canggih, GEOS-Chem.

“Indonesia berada di persimpangan jalan,” kata Jurukampanye Iklim dan Energi Greenpeace Indonesia, Hindun Mulaika, seperti press rilis yang diterima oleh Medialingkungan.

“Presiden Jokowi memiliki pilihan, tetap dengan pendekatan bisnis seperti biasa untuk menghasilkan listrik dan mengambil  kehidupan ribuan orang Indonesia, atau memimpin perubahan dan ekspansi yang cepat untuk energi yang aman, bersih, yaitu energi terbarukan,” lanjutnya.

Hindun menyatakan, laporan tersebut sudah jelas menunjukkan polusi batubara yang berdampak pada kehidupan rakyat Indonesia. “Masyarakat mengalami pendek usia akibat penyakit stroke, serangan jantung, kanker paru-paru, gangguan pernapasan dan yang memprihatinkan kematian pada anak-anak,” ucapnya.

Laporan ini diluncurkan menyusul pengumuman baru oleh Presiden Jokowi untuk membangun tambahan 35GW pembangkit listrik baru, dimana sebanyak 22GW diantaranya akan datang dari pembangkit listrik batubara.

Sementara itu, Profesor Shannon Koplitz dari Harvard mengungkapkan, emisi dari pembangkit listrik tenaga batubara membentuk partikel dan ozon yang merugikan kesehatan manusia. Indonesia adalah salah satu negara di dunia dengan rencana terbesar untuk memperluas industri batubara, namun sedikit yang telah dilakukan untuk mempelajari dampak kesehatan yang ditimbulkannya.

Hasil penelitian kami menunjukkan bahwa ekspansi batubara yang direncanakan secara signifikan dapat meningkatkan tingkat polusi di seluruh Indonesia. Biaya kesehatan manusia dari meningkatnya polusi batubara ini harus dipertimbangkan ketika membuat pilihan tentang masa depan energi Indonesia.

Sementara itu ahli batubara dan polusi udara dari Greenpeace, Lauri Myllyvirta menyatakan, setiap pembangkit listrik berbahan bakar batubara baru berarti berisiko bagi kesehatan orang-orang Indonesia.

“Pembangkit listrik batubara yang diusulkan di Batang saja bisa menyebabkan 30.000 kematian dini melalui masa operasi 40 tahun. Ketika biaya energi terbarukan menurun dengan cepat dan dampak kesehatan yang serius batubara diperhitungkan, menjadi jelas bahwa ekonomi Indonesia akan mendapat manfaat lebih besar dari pengembangan energi terbarukan modern,” tuturnya. (Press Rilis)


Redaksi Medialingkungan.com

Related post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *