Edukasi Tempat Sampah Terpilah Tanamkan Kepedulian Lingkungan Sejak Dini di SD 3 Bila Lagading
Krisis Politik Thailand, Rugikan Petani Karet Indonesia
Ilustrasi (gambar:medialingkungan)
Medialingkungan.com – Akibat kudeta yang terjadi di Thailand ternyata punya pengaruh besar terhadap Indonesia. Dampak dari krisis politik tersebut adalah anjloknya harga karet dunia.
Beberapa bulan terakhir ini, anjloknya harga jual karet dunia merugikan petani Indonesia. Harga karet saat ini hanya berkisar US$ 1,6/kg atau Rp. 16.000/kg dari harga normalnya yang bisa mencapai US$ 5,7 atau Rp 57.000/kg.
Wakil Menteri Perdagangan (Wamendag) Bayu Krisnamurthi menjelaskan Thailand merupakan salah satu negara produsen karet terbesar di dunia. Akibat krisis politik di Thailand, program subsidi petani atau farmer support programme (termasuk karet) yang merupakan kebijakan dari Perdana Menteri Yingluck Shinawatra resmi dihentikan.
“Akibatnya petani karet Thailand panic selling artinya menjual karetnya sangat berlebihan dan tidak terkendali,” kata Bayu saat ditemui di Kantor Kementerian
Perdagangan. Hal ini berdampak pada pasokan karet dunia yang sekarang kondisinya sudah berlebihan. Tiongkok sebagai negara pembeli karet terbesar Thailand juga memilih untuk mengurangi jumlah pembelian karet dari Thailand.
Pada Desember 2013 tercatat 1.195.000 tono stok karet di Shanghai, Tiongkok Awal Mei lalu meningkat (kelebihan suplai) menjadi 204.451 ton sedangkan posisi closing stock dari anggota ANRPC.
“Thailand sendiri akan rugi karena tidak bisa mengontrol produksinya maka bisa juga nanti produksi pohon karet mereka terganggu. Saat ini harga karet belum bisa masih diangkat dan diperbaiki karena faktor ini (krisis Thailand),” ujarnya.
Bayu menghimbau kepada para petani karet di Indonesia agar menahan stok atau mengurangi produksi karet saat ini. Bila petani karet di Indonesia tetap meningkatkan produksi karet, maka kerugian petani karet di dalam negeri jauh lebih besar.
“Jangka pendek harga karet kita masih tertekan. Petani kita sangat harapkan untuk menunda penyadapan (produksi), di sisi lain harga turun, income mereka berkurang padahal petani ingin menambah produksi. Harganya akan turun bentuknya spiral proses penurunan harganya. Kita terus koordinasi dengan Kementerian Pertanian bagaimana caranya karena satu-satunya adalah kurangi suplai,” katanya. (DN)