LPBI NU Gelar Aksi Kemanusiaan, Pembagian 11.000 Masker di Kalteng

 LPBI NU Gelar Aksi Kemanusiaan, Pembagian 11.000 Masker di Kalteng

Spanduk yang berisi himbauan untuk menghentikan pembakaran hutan dan lahan, serta ajakan untuk memelihara kelestarian lingkungan di beberapa titik strategis di wilayah Palangkaraya. {Gambar: LPBI NU}


Medialingkungan.com – Lembaga Penanggulangan Bencana dan Perubahan Iklim Nahdlatul Ulama (LPBI NU) membagikan 11.000 masker kepada warga terdampak asap di Kota Palangkaraya, Kalimantan Tengah (Kalteng). Aksi kemanusiaan ini dilakukan di tiga titik, yaitu Puntun, Kelampangan, dan Menteng, pada Rabu dan Kamis (23-24/09).

Aksi kemanusiaan ini dilakukan berdasarkan hasil kajian atau assessment yang dilakukan oleh relawan LPBI NU Kalimantan Tengah.

Para relawan LPBI NU Kalteng membagikan masker kepada masyarakat untuk mengurangi dampak yang dapat ditimbulkan akibat kabut asap yang sudah hampir sebulan menyelimuti Kalimantan Tengah.

Selain itu, pengurus dan para relawan LPBI NU Kalteng juga melakukan kampanye lingkungan hidup dengan memasang puluhan spanduk yang berisi himbauan untuk menghentikan pembakaran hutan dan lahan, serta ajakan untuk memelihara kelestarian lingkungan di beberapa titik strategis di wilayah Palangkaraya.

Ketua LPBI NU Kalimantan Tengah, Awaludin Noer mengatakan, kabut asap yang melanda Kalteng menyebabkan kesehatan masyarakat terganggu karena kualitas udara sangat buruk. “Selain itu, kabut asap juga berdampak pada berbagai aspek kehidupan, terutama ekonomi dan lingkungan,” kata Awaludin.

Ia berharap, pembagian masker ini bermanfaat bagi masyarakat yang setiap hari melakukan aktivitas di tengah kepungan asap.

Sementara itu, Ketua PP LPBI NU, M. Ali Yusuf mengatakan, kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang terus terjadi selama puluhan tahun ini menunjukkan perlunya upaya penanganan yang lebih serius dan menyentuh persoalan yang mendasar di antaranya penegakan hukum, kebijakan pemerintah dan pusat (yang saling mendukung) serta kesadaran semua pihak akan pentingnya menjaga kelestarian lingkungan.

“Oleh karena itu, kami mengajak kepada pemerintah, masyarakat, dan seluruh pihak untuk segera merumuskan upaya untuk mengurangi risiko bencana karhutla dan tidak fokus penanganan darurat semata agar peristiwa yang sangat merugikan seperti sekarang ini tidak terulang lagi di masa yang akan datang,” ungkap M. Ali.

Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan mencatat ada 156 titik panas sumber kabut asap di Sumatera dan Kalimantan. Dari 156 titik tersebut, 95 titik di Sumatera dan 61 titik di Kalimantan.

Berdasarkan catatan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) setidaknya sebanyak 25,6 juta jiwa terpapar dan tersebar di Sumatera dan Kalimantan. BNPB menaksir kerugian ekonomi akibat kebakaran hutan dan lahan pada 2015 ini lebih dari Rp 20 triliun. Kerugian tersebut mulai dari kerusakan lingkungan, terhambatnya kegiatan ekonomi, hingga terganggunya kesehatan masyarakat. {Fahrum Ahmad}


Redaksi Medialingkungan.com

Related post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *