Edukasi Tempat Sampah Terpilah Tanamkan Kepedulian Lingkungan Sejak Dini di SD 3 Bila Lagading
Perangi Karhutla, BPPT Ciptakan ‘Sesame’ untuk Lahan Gambut
Sensory Data Transmission Service Assisted by Midori Engineering (Sesame), alat pemantau kebasahan gambut berbasis sensor yang memberikan data secara real time setiap 10 menit. (Gambar: SP/Ari Rikin Suprianti)
Medialingkungan.com – Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) menciptakan teknologi pemantau kebasahan gambut. Alat ini diberi nama ‘Sesame’ atau Sensory Data Transmission Service Assisted by Midori Engineering. Demikian dikatakan peneliti utama pengembangan teknologi Sesame, Bambang Setiadi saat koferensi pers di Kantor BPPT, Jakarta, Selasa (20/10).
Bambang mengungkapkan, pihaknya kini tengah memproduksi 49 Sesame. Alat ini akan diuji coba di lahan gambut yang tersebar di beberapa daerah.
Alat pemantau berbasis sensor ini dapat memberikan data secara real time setiap 10 menit. Produksi Sesame akan memekan waktu. “Februari tahun depan akan siap. Selain untuk memantau kebasahan gambut, alat ini juga bisa digunakan untuk mengetahui gerakan air,” jelas Bambang.
Bambang menambahkan, alat itu bisa digunakan berasamaan saat sekat kanal yang dirancang pemerintah rampung. Dengan begitu, akan terukur seberapa basah gambut di suatu daerah sehingga bisa dilakukan pencegahan kebakaran gambut secara efektif.
“Kami sangat mendukung pembuatan sekat kanal di daerah bergambut karena gambut harus basah agar tidak terbakar. Namun, saya dengar pembuatan sekat kanal itu ternyata tidak begitu sukses di lapangan,” selorohnya.
Tim Kepresidenan mengatakan solusi untuk mengatasi kebakaran di lahan gambut itu dilakukan dengan membuat kanal bersekat dan di sisi kanan dan kirinya diberi stok air dengan embung. Dengan cara itu dilakukan pembasahan (rewetting) lahan gambut.
Bambang menjelaskan bahwa gambut terdiri dari 90 persen air. Untuk itu, gambut berperan penting sebagai sumber air tawar. Oleh sebab itu, kerusakan dan kebakaran gambut akan berpengaruh pada iklim.
Namun, pembukaan lahan berupa pengeringan areal gambut menyebabkan air pada gambut hilang. Gambut yang kering akan mudah terbakar pada musim kemarau, dan banjir saat musim penghujan.
“Pencegahan karhutla berarti pula pencegahan pengeringan gambut. Buat sekat kanal sebanyak-banyaknya di wilayah gambut. Undang pula ahli tata air,” katanya.
Selain itu, Bambang juga menyarakan pemerintah mengembangkan pugas (penyubur khusus tanah gambut). {Fahrum Ahmad}