Peringati Hari Bumi, Wajah Bumi Makin Tua

 Peringati Hari Bumi, Wajah Bumi Makin Tua

Ilustrasi bumi yang makin tua (Gambar: bp)


Medialingkungan.com – Hari bumi yang jatuh pada tanggal 22 April merupakan moment untuk membangun kesadaran dalam memperhatikan wajah bumi yang dari hari ke hari makin keriput. Planet bumi yang menampung berbagai jenis spesies mahluk hidup antara lain manusia, hewan, dan tumbuhan menjadi penghuni yang begitu menikmati keadaan bumi sekarang ini.

Dalam 3.000 dasawarsa lalu, bumi mengalami eksploitasi yang luar biasa oleh spesies yang bernama manusia. Populasi manusia yang meledak lebih tujuh miliar merupakan preseden yang belum pernah terjadi sepanjang sejarah planet. Eksploitasi atas sumberdaya alam untuk memenuhi konsumsi manusia semakin melemahkan daya dukung bumi dalam menjaga keberlangsungan kehidupan.

Ke arah mana proses ini semua akan berujung?

Negara Mexico kini menjadi lautan manusia. “Jika spesies manusia hanya dimulai dari dua manusia saja sekitar 10.000 tahun yang lalu, dan meningkat satu persen per tahun, saat ini manusia akan menjadi bola daging padat dengan diameter ribuan tahun cahaya, dan terus membesar dengan kecepatan melebihi kecepatan cahaya,” Gobar Zovanyi, penulis “The No-growth Imperative” seperti kutipan dari The Guardian.

Berbeda dengan di Mexico, pulau Vancouver, Brazil kini hutan-hutannya telah menjadi gundul tak ada sisa sama sekali. “Dominasi manusia atas alam sesungguhnya hanyalah sebuah ilusi, mimpi di siang bolong oleh spesies naif. Ini adalah ilusi yang telah membuat bumi kita menderita begitu parah, menjerat kita dalam sistem yang kita bangun sendiri,” Donald Worster, penulis “Dust Bowl”.

Melihat bumi yang makin parah, hutan diberbagai belahan bumi juga makin terdegradasi tiap detiknya. Hutan Amazon yang dulunya terbakar membuat Garrett Hardin, penulis Living Within Limits: Ecology, Economics and Population Taboos mengungkapkan Sepanjang sejarah, eksploitasi alam yang dilakukan oleh manusia telah menghasilkan satu pola tetap: kuasai-hancurkan-pindah.

“Globalisasi, yang mencoba mencampur dan menyatukan semua jenis sistem ekonomi baik lokal, regional, maupun negara, kedalam satu sistem ekonomi global yang tunggal, memaksa meniadakan bentuk-bentuk pertanian lokal yang unik, dan menggantinya dengan sistem industrial; yakni sistem yang dikelola secara terpusat, penggunaan pestisida yang berlebih, satu jenis tanaman pangan untuk ekspor, dan menyediakan hasil pangan yang terbatas jenisnya yang mudah diekspor ke berbagai tempat di dunia,” Helena Norberg Hodge, penulis “Bringing the Food Economy Home: Local Alternatives to Global Agribusiness”.

Ditambah, hutan yang ditebang habis hanya untuk membangun waduk penampungan air di Willamette National Forest, Oregon, AS, membuat Jim Robbins, penulis The Man who Planted Treesberkata, “Ironis sekali bagaimana pohon-pohon yang keteduhannya membuat kita nyaman, buahnya kita makan, batangnya kita panjat, yang akar-akarnya kita siram, sangat sedikit difahami oleh kebanyakan manusia. Kita harus memulai dari sekarang untuk memulai memahami arti pentingnya pohon dan hutan, menghargai setinggi-tingginya peran penting mereka dalam menjaga keberlangsungan kehidupan bumi. Pohon dan hutan adalah kawan utama manusia dalam menghadapi masa depan yang mungkin tidak kita fahami,”.

Tidak hanya di kanca Internasional yang terus membuat bumi menangis. Namun, di Indonesia pun turut andil dalam mengkoyah-koyah kulit bumi yang makin keriput. Contoh saja di Ibu Kota Jakarta sebagai penyumbang emisi terbesar. William Reyrson, editor Earth Island Journal pernah berkata, “Perdebatan mengenai populasi bumi bukan hanya tentang jumlah maksimum manusia yang bisa didukung oleh bumi. Pertanyaan pentingnya adalah: berapa banyak populasi yang dapat hidup di Bumi, dengan standar hidup yang layak, dan di saat yang sama memberi ruang untuk keanekaragaman hayati untuk lestari? Tidak ada jawaban yang tepat untuk pertanyaan ini, tetapi fakta-fakta yang ada mengarah pada satu kesimpulan; kita tak bisa terus berdiam diri. Jika bumi sudah kesulitan ‘menghidupi’ 7,2 miliar orang, bagaimana dengan miliaran manusia yang akan hadir di akhir abad nanti?”.

Bukan di darat saja, tapi di laut pun dirusak oleh sejumlah manusia yang tak bertanggung jawab yang hanya menikmati keindahan alam dan tak ingin menjaga dan melestarikannya. Lihat diberbagai lautan Indonesia masih banyak dijumpai sampah-sampah yang terapung dan berserakan. “Air dan udara, dua elemen paling utama di bumi yang memungkinkan berlangsungnya kehidupan, telah menjadi kaleng sampah global,” ujar Jacques Yves Cousteau, penulis dan sutradara “World Without Sun”. (Angga Pratama)


Redaksi Medialingkungan.com

Related post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *