Edukasi Tempat Sampah Terpilah Tanamkan Kepedulian Lingkungan Sejak Dini di SD 3 Bila Lagading
Peru Deklarasikan Penurunan Deforestasi Sebesar 50% pada 2017
Gambar ini menunjukkan pengukuran MRV hutan dengan indikator wilayah pembangunan dan pengembangan jalan yang berdekatan dengan hutan primer (Gambar: Mongabay)
Medialingkungan.com – Peru berkesempatan untuk menjadi tuan rumah pertemuan iklim UNFCCC pada bulan Desember mendatang. Seorang ahli di bidang kehutanan mengatakan bahwa kemitraan baru dengan Norwegia dan Jerman merupakan kesempatan yang baik untuk menyusun sistem pemantauan publik terhadap deforestrasi secara komprehensif.
Saat KTT Iklim PBB di New York berlangsung, Presiden Peru, Ollanta Humala mendeklarasikan komitmen untuk mengurangi emisi karbon dari deforestasi di negaranya dan membuat sektor kehutanan dan pertanian netral karbon pada 2021.
Sebagai imbalannya, Norwegia telah berjanji untuk membayar hingga US300 juta untuk pengurangan emisi selama enam tahun ke depan. Disaat bersamaan, Jerman juga membicarakan kelanjutan dukungan dari sisi finansial yang bersedia menambahkan lebih banyak uang untuk Peru dengan syarat – hasil penurunan emisi berjalan dengan baik.
Daniel Nepstad, Executive Director of the Earth Innovation Institute di sela-sela seminar tentang Hutan dan Iklim di New York mengatakan bahwa perjanjian tersebut datang pada waktu yang tepat. Dia memuji komitmen Norwegia untuk memberi bantuan pembiayaan dalam penurunan emisi.
“Saya pikir kemitraan yang mereka buat telah benar-benar membawa sinergitas dalam pembiayaan untuk hutan,” katanya.
Nepstad menambahkan bahwa kesepakatan ini merupakan implementasi untuk segera menerapkan sistem pengukuran deforestasi hutan tahun ini , yakni pemantauan, pelaporan dan verifikasi (MRV.)
“Ini akan sangat baik jika Peru bisa memilih sistem monitoring dan menetapkan sebuah referensi untuk didiskusikan pada COP (Conference of Parties) di Lima (pada tahun 2015) — yang berawal pada Konferensi Para Pihak UNFCCC ke-20 di Peru pada bulan Desember nanti,” katanya.
This is something Brazil has been doing for a decade now, Nepstad said, and it has been a key part of that country’s success in dramatically reducing deforestation rates.
Dikatakan bahwa sistem monitoring baru ini merupakan tools untuk mengukur sebaran hutan di Peru dengan menggunakan satelit penginderaan jauh atau data lainnya — untuk menciptakan ‘tingkat pembanding’ dan kemudian mengukur perubahan tutupan hutan setiap tahun. Sehingga bisa diperoleh hasil rekaman laju deforestasi dan mempublikasikannya.
Sebelumnya, hal yang sama telah dilakukan oleh Brasil selama satu dekade ini. “Setiap tahun, biasanya pada pertemuan COP, akan dirilis laporan terbaru tentang perubahan tutupan hutan tahunan di Amazon, Brasil, dan terbuka untuk public agar semua orang mampu melihat melihat apakah terjadi kenaikan tahun atau penurunan. Hal ini telah menjadi bagian dari wacana publik, “katanya.
Nepstad mengatakan, hal itu telah menjadi bagian penting dari keberhasilan negara itu dalam mengurangi laju deforestasi yang dramatis.
Menteri Lingkungan Peru, Manuel Pulgar-Vidal mengatakan, kesepakatan itu akan membawa nilai pada hutan di negaranya. “Untuk Peru, yang penting adalah untuk membawa nilai ke hutan. Hal ini tidak hanya ekonomi-juga nilai budaya, pasar, dan kepemilikan lahan. Jadi dengan dana ini kita akan membawa nilai ke hutan.”
Selain menerapkan MRV, dalam deklarasi itu, pihaknya berjanji untuk memberikan hak kepemilikan tanah minimal 5 juta hektar tambahan untuk suku-suku asli di Amazon – yang bertujuan untuk mengurangi deforestasi sebesar 50 persen pada 2017, dan berusaha untuk membuat sektor kehutanan dan pertanian karbon-netral pada 2021. (MFA)