Setelah Kota Padang Diobrak-abrik Angin Kencang, Wilayah Lain Juga Siap Diterjang

 Setelah Kota Padang Diobrak-abrik Angin Kencang, Wilayah Lain Juga Siap Diterjang

Ilustrasi cuaca buruk (gambar:istimewa)


Medialingkungan.com – Angin kencang yang melanda Sumbar pada Rabu (18/06) sore kemarin menimbulkan kerusakan di kota Padang. Sedikitnya terdapat enam titik yang mengalami pohon tumbang, dan ada longsoran kecil yang terjadi di kawasan Agam.

Akibat efek yang ditimbulkan, masayarakat sekitar pesisir pantai mulai khawatir jika terjadi bencana susulan yang sulit diprediksi kedatangannya. Sebagian masyarakat juga telah mengevakuasikan diri ke daerah yang lebih aman.

“Kita takut lah Pak, angin kencang, ditambah lagi dengan pasang laut yang semakin meninggi, kita lihat dulu, kalau bertambah parah, kita mungkin mengungsi sebentar,” ucap Iwan (37), pedagang di kawasan Pantai Padang pada JPPN.

Berdasarkan Informasi yang dihimpun JPPN dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sumbar, rata-rata yang terkena efek angin kencang tersebut adalah Kota Padang. Untuk wilayah lain di Sumbar, hanya sedikit longsor di kawasan Agam dan sekitarnya.

“Yang terparah adalah Kota Padang, dan untuk Sumbar tidak ada kerusakan yang berarti,” tutur Kepala BPBD Sumbar, Yazid Fadhli saat dihubungi Posmetro Padang (JPNN Group), Rabu malam.

Pihak BMKG sebelumnya telah memperingati seluruh masyarakat Indonesia untuk mewaspadai fenomena alam El-Nino yang berpoensi besar disusul oleh El-Nina. Kabar ini tersiar pada pertengahan April lalu setelah pihak otoritas iklim Australia mengrimkan pesan kepada pihak Indonesia tentang ancaman badai El Nino yang ia prediksi akan masuk pada Juni ini.

Data dari BMKG terpantau kalau wilayah Indonesia berada pada posisi rentan terhadap perubahan iklim dan cuaca. Pada bulan Juni ini, pihaknya mengakui bahwa Indonesia tengah bersiap untuk menghadapi fenomena ini.

“Gerakan angin yang sangat cepat di Samudera Hindia berefek hingga ke perairan barat kota Padang. Ditambah lagi dengan potensi El Nino yang dimulai pada Juni ini,” sebut Forecaster BMKG Maritim, Carles.

Ia juga menyampaikan bahwa kemungkinan, kejadian ini akan berlangsung hingga tiga hingga empat hari kedepan. Selain itu, angin kencang yang terjadi ini juga membuat naiknya permukaan air laut.

Ia juga menyerukan kepada para nelayan untuk mewaspadai hal tersebut. Pasalnya, badai tersebut tidak hanya terjadi di daratan saja, namun di laut badai tersebut bisa berhembus bahkan dengan tekanan lebih tinggi. (MFA)


Redaksi Medialingkungan.com

Related post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *