Edukasi Tempat Sampah Terpilah Tanamkan Kepedulian Lingkungan Sejak Dini di SD 3 Bila Lagading
Tarif Listrik Naik, Rumah Berenergi Alternatif Mulai Diincar
Rumah hemat energi dan ramah lingkungan milik Doone dan istrinya (Gambar : istimewa)
Medialingkungan.com – Di saat tarif listrik naik dan teknologi energi alternatif mulai berkembang secara pesat. Banyak orang yang telah memutuskan untuk hidup di luar keramaian dan tanpa jaringan listrik konvensional.
Doone Wyborn, pensiunan ilmuwan dan pengusaha — beserta istrinya, Carol, adalah dua di antara sekelompok orang yang menggunakan energi alternatif di kediaman mereka.
Mereka membeli tanah seluas 320 hektar di pedesaan New South Wales bagian utara, hampir 10 tahun yang lalu, dan berencana mengubahnya menjadi komunitas pedesaan yang mandiri secara energi.
Rumah milik pasangan ini, secara mandiri dan total telah menggunakan panel matahari sebesar 3.45 Kilowatt dan memiliki cukup air yang berasal dari pegunungan sekitar.
Mereka hanya satu-satunya pasangan yang hidup di area ini, namun mereka bertekad, ke depan tempat tersebut akan diubah menjadi desa ramah lingkungan yang mandiri.
Jika orang-orang memutuskan untuk hidup di desa, maka sebaiknya mereka membangun rumah berenergi mandiri di tanah mereka sendiri.
“Jika ada sesuatu yang tak kami punya di rumah ini, saya ingin kami memproduksinya sendiri, mencari alternatif atau sekalian hidup tanpa itu sama sekali,” ujar Doone.
Ia adalah ahli di bidang ilmu dan bisnis energi alternatif, menyelesaikan pendidikan doktoral di bidang energi panas bumi, dan terlibat dalam pendirian perusahaan pelopor energi panas bumi.
Jajaran panel solar di area rumahnya memproduksi listrik 25% lebih banyak, karena panel ini menangkap pergerakan matahari di langit.
Suatu saat nanti, keluarga Doone ingin memiliki komunitas pedesaan yang menanam berbagai jenis hasil panen dan mampu berproduksi dalam skala besar. Namun pada tahap ini, produksi ladang hanya cukup untuk konsumsi pribadi.
Sekitar 80 hektar areal tempat tinggal Doone masih belum rapi dan cocok untuk menanam benih serta mengembalakan ternak. Sementara 240 hektar lainnya masih berupa hutan eukaliptus dan hutan hujan.
Doone mengutarakan, sebagian tanahnya, sejauh ini, telah disewa dan ada ketertarikan dari orang lain yang ingin hidup tanpa jaringan listrik. (MFA)