Edukasi Tempat Sampah Terpilah Tanamkan Kepedulian Lingkungan Sejak Dini di SD 3 Bila Lagading
Sudah Saatnya Melirik Energi Biomassa
Medilingkungan.com – Pemerintah dewasa ini harus sudah mulai berbenah diri. Diprediksi, akibat perubahan iklim yang ekstrim, seluruh negara akan mengalami krisis energi pada tahun 2050. Hal ini disebabkan karena lonjakan laju pertumbuhan penduduk yang kian hari kian meningkat. National geographic mencatat, beberapa dekade mendatang, akan lahir sekitar 9 miliar penduduk lagi.
Untuk itu, kebutuhan akan energi berbasis fosil tiap tahun akan meningkat. Untuk BBM premium saja, tiap tahun meningkat sekitar 11 persen. Diperlukan gagasan untuk melepaskan ketergantungan Indonesia dari penggunaan energi dari fosil.
Biomassa merupakan energi alternatif yang menawarkan banyak manfaat baik untuk pemenuhan kebutuhan nasional maupuan dampak positif lingkungan yang ditimbulkannya.
Selain itu, mengamati posisi Indonesia yang memiliki modal dasar dengan besarnya potensi hutan serta kokohnya industri pangan di sektor hulu, mengindikasikan sinyal bahwa biomassa di Indonesia adalah langkah yang dapat dijejaki. Laporan Persatuan Pelajar Indonesia di Jepang mencatat, potensi biomassa yang dimiliki Indonesia sanggup menyumbang sekitar 50 GW keperluan energi nasional.

Biomassa merupakan sumber energi terbarukan yang mengacu pada bahan biologis yang berasal dari organisme yang belum lama mati (dibandingkan dengan bahan bakar fosil). Sumber-sumber biomassa yang paling umum adalah bahan bakar kayu, limbah dan alkohol.
Energi biomassa telah dengan cepat menjadi bagian penting dari energi terbarukan global dan telah diperhitungkan sebagai kontributor penyediaan listrik di seluruh dunia. Sesuai laporan UNEP awal tahun ini, kapasitas total daya terbarukan di seluruh dunia melebihi 1.470 GW pada tahun 2012, naik 8,5 % dari tahun sebelumnya.
Untuk pasokan energi terbarukan menyediakan sekitar seperlimanya dari konsumsi energi di seluruh dunia, mulai dari penggunaan biomassa secara tradisional, tenaga air, dan hingga yang ‘baru’ adalah energi terbarukan (mini hidro, biomassa modern, angin, surya, panas bumi, dan bahan bakar nabati).
Beberapa contoh biomassa seperti jagung, gandum, dan ubi kayu. Hanya dengan sentuhan teknologi, bahan biologis ini dapat dikonversikan menjadi energi bahan bakar. Menurut data Departemen Pertanian, hasil produksi jagung memiliki tren yang relatif membaik, angka tahun 2007 ada pada level produksi 10.15 juta ton. Sementara itu, ubi kayu ada sekitar 12,6 juta ton.
Masing-masing dari beberapa contoh yang disebutkan, memliki potensi luas panen dan produksi yang meningkat tiap tahun yakni berturut-turut 3,3 juta hektar dan 1,2 juta hektar. Data ini merupakan potensi besar pemanfaatan biomassa Indonesia.
Beberapa prediksi terbaru menunjukkan bahwa energi biomassa kemungkinan akan membuat sepertiga dari kontribusi energi total dunia pada tahun 2050. Faktanya, biofuel hanya menyediakan sekitar 3% dari bahan bakar dunia untuk transportasi.
Kontradiksi penggunaan biomassa
Sudah menjadi rahasia umum bahwa biomassa merupakan sumber energi terbarukan, tetapi bukan berarti biomassa adalah sumber energi yang benar-benar ramah lingkungan. Pertanyaannya, apakah kita harus menggunakan biomassa atau tidak ?. Hal ini telah menimbulkan banyak kontroversi untuk beberapa tahun terakhir.
Para penentang mengatakan, biomassa dapat menyebabkan emisi gas rumah kaca (GRK) yang besar (dari pembakaran kayu), bahkan lebih besar daripada GRK yang berasal dari pembangkit listrik berbahan bakar batubara.
Sementara itu, para pendukung mengatakan bahwa konsep biomassa berkelanjutan relatif mudah dicapai dengan menerapkan regulasi melalui sistem yang sangat ketat tentang bahan baku yang digunakan serta bagaimana penglolaannya.
Ada anggpan bahwa biomassa merupakan karbon netral, ini berarti biomassa mengambil karbon dari atmosfer pada saat tanaman tumbuh, dan mengembalikannya ke udara ketika dibakar. Karena itulah, setidaknya menurut teori, terjadi siklus karbon tertutup tanpa peningkatan kadar karbon dioksida (CO2) di atmosfer.
Hingga saat ini, industri berbasis biomassa dapat memberikan kesempatan kerja yang cukup dan mempromosikan pertumbuhan kembali biomassa melalui praktek-praktek pengelolaan lahan yang berkelanjutan.
Aspek negatif dari pemanfaatan biomassa tradisional di negara-negara berkembang dapat diatasi dengan promosi teknologi modern limbah – ke-energi yang menyediakan bahan bakar padat, cair dan gas serta listrik. Limbah biomassa mencakup beragam bahan yang berasal dari residu pertanian, agro-industri, dan kayu, serta limbah kota dan industri.
Keuntungan Energi Biomassa
Perkembangan teknologi pendayagunaan biomassa yang efisien, perbaikan sistem pertanian- kehutanan dan pembentukan pembangkit listrik berbasis biomassa skala kecil dan dapat memainkan peran utama dalam pembangunan pedesaan. Energi biomassa juga bisa membantu dalam modernisasi ekonomi pertanian.
Jika dibandingkan dengan energi angin dan matahari, pembangkit biomassa mampu memberikan hal-hal penting dan bahan baku yang dapat diandalkan. Tanaman biomassa memberikan keragaman bahan bakar, yang melindungi masyarakat dari bahan bakar fosil.
Karena energi biomassa menggunakan bahan bakar diproduksi di dalam negeri, listrik biomassa sangat mengurangi ketergantungan kita pada sumber energi asing dan meningkatkan keamanan energi nasional.
Diantara beberapa contoh tersebut, biomassa memiliki keunggulan lingkungan yang tak ada subsititusinya dengan energi alternatif lain. Pertama, biomassa dapat mengurangi polusi udara dengan asap pembakaran biomassa dapat menyerap polusi yang ada di udara. Selain itu, limbah pabrik yang umumnya menjadi wasted chemical dapat diolah menjadi energi biomassa.
Kedua, biomassa dapat mengunrangi adanya gas rumah kaca. Gas rumah kaca terdiri dari karbon dioksida (CO2), metana, nitrogen oksida, dan beberapa gas lainnya yang terperangkap dalam atmosfer. Tanaman atau biomassa dapat mengurangi konsentrasi karbon dioksida dari atmosfer melalui proses fotosintesis. Ketiga, biomassa dapat mengurangi limbah organic yang berasal dari pabrik, sampah pertanian, dan pengolahan biodiesel. Keempat, biomassa juga dapat melindungi kebersihan air dan tanah serta mengunrangi polusi udara.
Tantangan pemerintah Indonesia dalam penerapan penggunaan biomassa
Lembaga Penelitian Indonesia (LIPI) saat ini tengah melakukan berbagai macam penelitian untuk mengembangkan energi biomassa. Namun, mereka masih kesulitan dalam penerapan konsep berkelanjutan dari penggunaan biomassa.
Hambatan pengembangan energi biomassa yang dirasa memberatkan adalah belum adanya kebijakan yang membuat harga energi biomassa bersaing dengan BBM bersubsidi. Menurut peneliti LIPI yang tergabung dalam proyek pengembangan biomassa, Purnama Alamsyah, kepada GEO ENERGI mengatakan, harga jual energi biomassa, seperti BBN, kalah murah dengan BBM bersubsidi.
“Tapi kalau diproduksi secara massal, sebenarnya bisa kompetitif. Atau ada insentif dari pemerintah, mau dikasih pajak, atau dikurangi pajak,” lanjut Purnama.
Masalah perizinan tampaknya sudah menjadi momok yang menjerat berbagai sektor termasuk sektor biomassa. Ruwet dan banyaknya jumlah regulasi menjadi hambatan pengembangan biomassa.
“energi biomassa ini urusannya ada di dua kementerian. Karena bahan bakunya berasal dari pangan, jadi untuk urusan pangannya berhubungan dengan Kementerian Pertanian. Namun kalau sudah berubah menjadi energi, itu ke Kementerian ESDM. Nah, regulasi dari keduanya harus sinkron. Harus ada sinergi,” ungkap Purnama di penghujung 2013 lalu.
Selain itu, lanjut purnama, Peraturan Menteri (Permen) Nomor 25 tahun 2013 yang mengatur tentang penggunaan BBN, sedikit memberi angin segar bagi energi biomassa.
“Kita berharap dengan adanya aturan untuk mencampur biodiesel itu bisa membuat pasar untuk energi biomassa lebih besar, dengan demikian bisa mendorong perkembangan teknologinya. Tapi semua itu kembali lagi, terutama ke pemerintah agar mereka bisa menyediakan regulasi yang friendly terhadap energi biomassa.”
Hal lain yang perlu dibenahi untuk mendukung pengembangan energi biomassa adalah pemetaan potensi biomassa di Indonesia. Menurutnya, mengetahui persebaran potensi tanaman yang bisa dikembangkan untuk biomassa amat penting untuk membantu arah pengembangan potensi biomassa di suatu daerah. (MFA)