Menteri LHK Akan Tinjau Lahan Ex-Hutan yang Diklaim Areal Persawahan di Merauke

 Menteri LHK Akan Tinjau Lahan Ex-Hutan yang Diklaim Areal Persawahan di Merauke

Ilustrasi, Joko Widodo berfoto bersama petani di sebuah lahan sawah di Desa Gentasari, Kroya, Cilacap, Jawa Tengah. (Gambar: Antara/Widodo S.Jusuf)


Medialingkungan.com – Pada awal kepemimpinannya, Presiden Joko Widodo berkomitmen untuk menambah areal persawahan 2 juta hektar – dengan motivasi swasembada pangan. Penambahan areal ini akan dilakukan dengan pengalihan fungsi areal ex-hutan yang digulirkan menjadi lahan persawahan.

Pengalihan ini menjadi kewenangan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) untuk membebaskan areal hutan produksi untuk dijadikan lahan persawahan. Hal demikian tertuang dalam UU 41 tahun 1999 tentang Kehutanan.

Menteri LHK, Siti Nurbaya akan memastikan kondisi dan status lahan yang akan dialihkan menjadi areal pertanian, seperti areal yang klaim sebagai wilayah persawahan di Merauke, Papua seluas 4,6 juta hektar.

“Nanti saya cek yang dimaksud persisnya seperti apa,” katanya di Kompleks Istana Kepresidenan, Rabu malam (13/05) seperti dikutip dari Bisnis.com.

Ia mengatakan Kementerian LHK memiliki peta identifikasi lahan Merauke Integrated Food and Energy Estate (MIFEE) yang sempat digulirkan pada pemerintahan SBY-Boediono. Meskipun belum diperoleh data mengenai luasan pasti, namun luas areal potensial mencapai lebih dari 2 juta hektar.

Siti Nurbaya menegaskan areal ex-hutan atau hutan produksi di Papua bisa saja dijadikan areal persawahan dengan syarat landscape-nya sesuai dengan kelas kemampuan lahannya (peruntukannya).

“Alam kan ada kesesuaiannya. Kalau datar, produktif buat rakyat, lingkungan terjaga bisa saja. Bagaimana lingkungan terjaga? Misalnya, di daerah-daerah sempadan sungai, teras-teras sungai itu boleh dibuka,” ungkapnya.

Joko Widodo juga mengatakan Kabupaten Merauke memiliki lahan seluas 4,6 juta hektar yang dapat dimanfaatkan untuk persawahan padi. “Lahan seluas 4,6 juta hektare itu tidak mungkin dikerjakan dengan tangan dan cangkul, tetapi harus digarap secara mekanis,” katanya di Jakarta, Rabu (13/05).

Berdasarkan informasi sementara yang diperoleh Jokowi dari Bupati Merauke, Romanus Mbaraka, lahan yang ditawarkan menjadi areal persawahan tersebut memiliki karakteristik daratan yang rata, yang ditunjang dengan sungai di kedua sisinya. “Lahannya sangat datar, dan di kanan kirinya ada sungai yang sangat luas, sehingga tidak perlu memikirkan air. Ini sangat cocok untuk sawah padi,” ujarnya.

Menurutnya, dengan bantuan piranti teknologi dan kapasitas sumber daya manusia yang baik, maka lahan tersebut diprediksi dapat menghasilkan 60 juta ton beras setiap tahunnya. (Fahrum Ahmad)


Redaksi Medialingkungan.com

Related post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *