Monas, Taman Monumental Penyerap Gas Rumah Kaca

 Monas, Taman Monumental Penyerap Gas Rumah Kaca

Panorama Monumen Nasional (monas) (gambar: wikipedia)


Medialingkungan.com – Monumen Nasional (Monas), begitu sebutan bagi monumen akbar ini untuk mengenang perjuangan rakyat dalam meraih kemerdekaan ini dari tangan kolonial Hindia-Belanda. Dengan tinggi 132 meter, Monas kini tak lagi hanya sekedar simbol kemerdekaan, selain bernilai estetis, monas kini menjadi taman kota yang dipandang memberi peran penting terhadap penurunan emisi gas rumah kaca Kota Jakarta.

Dalam sebuah rilis yang diterima medialingkungan.com dari Peneliti Litbang Kementerian Lingkungan dan Kehutanan, melalui Ismayandi Samsoedin dan Ari Wibowo mengatakan bahwa pepohonan yang ditanam di taman Monas memiliki kandungan rata-rata 0,33 ton karbon per pohon, sama dengan potensi karbon 19,8 ton per hektar atau 36,9 ton biomass per hektar. 

“Kami memilih taman kota Monas sebagai lokasi penelitian karena pengelolaan dan pemeliharaan taman ini menerapkan konsep Konservasi ex situ yaitu melakukan pelestarian alam di luar habitat aslinya,” ujar Ismayadi Samsoedin di Bogor pekan lalu (05/11). 

Ari menambahkan, dari penelitian yang dilakukan, ia berhasil menemukan fenomena yang menurutnya sangat menarik. Ia mengaku bahwa dari 205 jumlah pohon trembesi yang ditanam di Monas, dapat menghasilkan karbon sebesar 280,64 ton. 

Taman Kota Monas dan Peran Pentingnya

Dari sekitar 80 hektar luas Monas saat ini, telah ditumbuhi 64 jenis tumbuhan lokal (malesiana) dan jenis pendatang (eksotik) dengan total 1806 pohon meliputi sepertiga luas Monas (>30 hektar). Jenis pohon yang mendominasi yaitu Trembesi, Bungur, Kupu-kupu, dan Mahoni. 

“Kandungan karbon pada sebuah pohon sangat bergantung pada identifikasi jenis pohon, diameter batang, tinggi pohon, berat jenis kayu, bentuk tajuk atau lebarnya kanopi pohon dan luasnya permukaan hijau daun yang penting bagi proses fotosintesis,” kata Ari. 

Terhadap riset yang mereka lakukan ini, Ismayadi berharap dapat meng-influence pemerintah daerah maupun pemerintah provinsi lainnya tentang manfaat pembangunan taman kota guna kontribusi percepatan target penurunan efek GRK sebesar 20% pada tahun 2020. 

Sebagai salah satu upaya adaptasi dan mitigasi dampak perubahan iklim – yang menimbulkan siklus cuaca tidak menetap dan persoalan yang sangat kompleks, taman kota ini terutama menjaga ketersediaan air untuk masyarakat (sebagai daerah resapan air), penghasil oksigen, dan habitat satwa untuk wilayah perkotaan.

Penelitian yang telah diterbitkan dalam Jurnal Sosial Ekonomi Kehutanan Vol.9 Nomor 1, Tahun 2012 ini menjadi bukti akan efektifitas taman kota sebagai penyerap gas rumah kaca. Juga menambah daftar manfaat pohon di kota.

Pemerintah Provinsi DKI Jakarta telah menetapkan kawasan ini sebagai ruang terbuka hijau dan menjamin keberadaan pepohonan dari penebangan. “Taman kota Monas bisa role model menjadi pemicu para pemerintah daerah membangun sebanyak-banyaknya taman kota di daerah mereka,” kata Ismayadi dan Ari menutup pembicaraan. (MFA)


Redaksi Medialingkungan.com

Related post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *