Pendekatan Prospektif Bedah si Unik “Gambut”

 Pendekatan Prospektif Bedah si Unik “Gambut”

Perkebunan kelapa sawit diatas lahan gambut (gambar:dok)


Medialingkungan.com – Dalam rilis mongbay indonesia, Ridzki Sigit, Direktur Mongabay Indonesia mengungkapkan bahwa gambut memegang peranan yang sangat krusial dalam kaitannya dengan mitigasi pemanasan global serta peneyeimbang iklim dunia.

Gambut (peatland dalam bahasa Inggris), menurutnya tengah menjadi pokok perbincangan pada forum nasional dan internasional.

Ia menyadari, publik secara luas belum mengetahui betul seluk-beluk mengenai gambut. Serupa dengan yang dialami oleh Mongabay Inondesia bahwa pembaca merespon gambut melalui permintaan khusus yang dilayangkan via email – untuk mengulas informasi yang sedikit padat perihal gambut secara definitif dan peran penting dari ekosistemnya.

Secara objektif, Medialingkungan mencoba menerangkan “gambut” melalui pendekatan atau skema analisis prospektif – untuk mensintesakan informasi secara komparatif. Untuk itu, beberapa kutipan dalam tulisan ini merupakan kutipan langsung dari hasil publis sebelumnya.

Definisi gambut

Secara terminologi gambut merupakan dekomposisi bahan organik yang terjadi dengan estimasi waktu selama ribuan tahun untuk menciptakan penyimpanan karbon pada tanah.

Balai Penelitian Tanah dan World Agroforestry Centre (ICRAF) menyebutkan bahwa gambut adalah lahan yang memiliki lapisan tanah kaya bahan organik (C-organik > 18%) dengan ketebalan 50 cm atau lebih. Bahan organik penyusun tanah gambut terbentuk dari sisa-sisa tanaman yang belum melapuk sempurna karena kondisi lingkungan jenuh air dan miskin hara. Oleh karenanya lahan gambut banyak dijumpai di daerah rawa belakang (back swamp) atau daerah cekungan yang drainasenya buruk.

Sederhananya, gambut tersusun dari bahan organik yang mengalami penumpukan karena belum terurai secara sempurna. Penumpukan itu bisa mencapai hingga kedalam 7-15 meter. Jenis gambut ini disebut gambut dalam.

Menurut Oka Karyanto dari Universitas Gajah Mada untuk membentuk kedalaman gambut setebal 4 meter dibutuhkan sekurang-kurangnya 2.000 tahun, namun jika dikeluarkan airnya lewat drainase gambut dapat habis hanya dalam waktu 100 tahun.

Selain itu lahan gambut bersifat seperti spons, sangat penting bagi hidrologi kawasan karena mampu menyerap air hingga 13 kali lipat dari bobotnya.

Karena keunikan ekosistemnya, ratusan spesies unik vegetasi, seperti pohon, anggrek dan tanaman obat hanya ditemui di rawa gambut. Hutan rawa gambut juga menjadi habitat bagi spesies terancam punah seperti harimau, macan dahan, orangutan dan masih banyak lagi.

Aspek lingkungan lahan gambut

ICRAF mencatat, karakteristik yang dimiliki lahan gambut berhubungan dengan kontribusinya dalam menjaga kestabilan lingkungan — ‘jika’ lahan gambut berada kondisi ideal (stabil), namun sebaliknya – akan menjadi sumber masalah lingkungan apabila manusia mencoba mengorek kestabilan lahan gambut.

Secara ringkas, beberapa aspek lingkungan yang berhubungan dengan lahan gambut adalah lahan gambut sebagai penambat dan penyimpan karbon, lahan gambut sebagai sumber emisi gas rumah kaca, kebakaran lahan gambut, dan aspek hidrologi dan subsiden.

Kendati lahan gambut hanya meliputi 3 persen dari luas daratan seluruh dunia, namun menyimpan 550 Gigaton C atau setara dengan 30% karbon tanah, 75% dari seluruh karbon atmosfir, setara dengan seluruh karbon yang dikandung biomassa (massa total makhluk hidup) daratan dan setara dengan dua kali simpanan karbon semua hutan di seluruh dunia. Demikian menurut hasil penelitian Prof Hans Joosten dari Institute of Botany and Landscape Ecology, University Greifswald di Jerman.

Sementara itu, Gas rumah kaca (GRK) utama yang keluar dari lahan gambut adalah CO2, CH4, dan N2O. Pembakaran lahan gambut bisa memicu emisi CO2 yang dinilai 23x lipat dibandingan CH4 yang dimiliki gambut per hektarnya.

Menurut Erick Olbrei, peneliti gambut dari Australian National University, lahan gambut Indonesia memiliki nilai penting bagi dunia, karena menyimpan setidaknya 57-60 miliar metrik ton karbon, hanya bisa ditandingi dengan Amazon yang menyimpan sekitar 86 miliar metrik ton karbon di dalam tanahnya. Hilangnya setengah lahan gambut Indonesia, akan melepaskan sekitar 100 Gigaton karbon dioksida atau 150 kali emisi tahunan Australia bisa terlepas ke udara dalam beberapa dekade mendatang.

Sebagai perbandingan jika emisi lahan gambut Indonesia lepas secara keseluruhan ke atmosfer akan setara dengan sepertiga cadangan karbon yang ada di seluruh dunia. Menurut Greenpeace, hal ini akan setara dengan membakar seluruh cadangan minyak bumi yang ada di Arab Saudi, Venezuela, Kanada, Rusia dan Amerika Serikat digabungkan menjadi satu.

Faktor lainnya yaitu penurunan permukaan (subsiden) gambut sekaligus menyebabkan menurunnya kemampuan gambut menahan air. Apabila kubah gambut sudah mengalami penciutan setebal satu meter, maka lahan gambut tersebut akan kehilangan kemampuannya dalam menyangga air sampai 90 cm atau ekivalen dengan 9.000 m3 ha minus satu.

Dengan kata lain lahan disekitarnya akan menerima 9.000 m3 air lebih banyak bila terjadi hujan deras. Sebaliknya karena sedikitnya cadangan air yang tersimpan selama musim hujan, maka cadangan air yang dapat diterima oleh daerah sekelilingnya menjadi lebih sedikit dan daerah sekitarnya akan rentan kekeringan pada musim kemarau.

Memangnya banyak lahan gambut di Indonesia?

Mongabay Indonesia sendiri mengungkapkan bahwa Indonesia adalah pemilik kawasan lahan gambut tropis terluas di dunia dengan luasan sekitar 21-22 juta hektar (1,6 kali luas pulau Jawa), yang penyebarannya berada di Kalimantan, Sumatera dan Papua.  Papua adalah yang terluas dengan lebih kurang sepertiga lahan gambut yang ada di Indonesia.

Lahan gambut bagi Indonesia memiliki nilai yang sangat penting karena mampu menyimpan karbon 20 kali lipat lebih banyak dibandingkan hutan hujan tropis biasa atau tanah yang bermineral, dan 90% diantaranya disimpan di dalam tanah.

Bagaimana kondisi lahan gambut di Indonesia?

Menurut data Wetlands, sekitar 61 persen total lahan gambut di Indonesia adalah hutan yang sebagian besar telah dibuka dan 24 persen adalah semak belukar yang telah terganggu. Hanya sekitar

5 persen saja yang telah dikelola. Lahan gambut yang berada di tangan pemegang konsesi (perkebunanan sawit dan kayu) sekitar 23 persen dan seringkali area konsesi tersebut berada dalam kondisi rusak.

Salah satu indikator bahwa pengelolaan gambut buruk adalah lahan gambut yang terus terbakar. Kebakaran lahan gambut terbesar yang terjadi di Indonesia adalah kebakaran pada 1996-1997 yang dibarengi dengan el nino.

Setelah itu hampir setiap tahunnya kebakaran lahan dan hutan gambut selalu menjadievent regular tahunan, terjadi setiap kemarau di propinsi Riau dan pesisir Sumatera lainnya serta di Kalimantan yang hutan gambutnya terlanjur dibuka untuk sawit, pertanian, dan tanaman homogen akasia.

Potensi gambut

Lahan gambut dalam sama sekali tidak direkomendasikan untuk dibuka dan dikonversi, namun lahan gambut dangkal masih dapat dimaanfaatkan untuk lahan pertanian. Umumnya para peneliti menyebutkan bahwa kedalaman gambut yang masih direkomendasikan untuk dibuka adalah gambut berkedalaman maksimal 3 meter atau 10 kaki.

Puslitbang Deptan mencatat, dengan kedalaman 3 meter, tanaman tahunan/perkebunan, padi, tanaman palawija, hortikultura, dan tanaman lahan kering semusim dapat tumbuh dengan sangat subur, bahkan menghasilkan kualitas yang sangat tinggi sesuai dengan taraf/standar permintaan perusahaan-perusahaan besar.

Melihat potensi lahan gambut yang sangat besar, khususnya unuk bidang pertanian dan perkebunan, sehingga lahan gambut acap kali mengundang perlakuan negatif manusia terhadap eksplorasi dan pemanfataannya lahan.

Lahan gambut juga merupakan sumber plasma nutfah. Plasma nutfah adalah substansi pembawa sifat keturunan pada tumbuhan, hewan, maupun mikroorganisme. Sumber plasma nutfah flora yang terdapat di lahan rawa gambut merupakan plasma nutfah alami yang hidup di areal hutan.  

Jika lahan rusak atau bahkan hilang, maka akan menyebabkan beberapa plasma nutfah menjadi rawan, langka, bahkan sampai punah.

Sesuai dengan pemaparan sebelumnya, membakar dan melakukan eksploitasi berlebihan (illegal logging) di wilayah gambut merupakan hal yang menimbulkan efek sebaliknya dari potensi khusus yang sangat besar — yang hanya dimiliki oleh lahan gambut. (MFA)


Redaksi Medialingkungan.com

Related post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *