Perubahan Iklim Ancam Sektor Pariwisata

 Perubahan Iklim Ancam Sektor Pariwisata

salah satu resor ski di Rusia (gambar:VOA)


Medialingkungan.com – Perubahan iklim tak ayal membuat pariwisata semakin terancam keberadaannya. Salju yang meleleh di resor-resor ski hingga terumbu karang yang ter-bleaching akibat hantaman air laut yang menghangat, lalu menimbulkan pemandangan yang tak normal. Hal ini akan mendoktrin pikiran pengunjung saat melihat kondisinya dan memutuskan untuk hengkang.

Menurut rilis sebuah studi, Selasa (17/06), untuk menghambat laju kenaikan gas rumah kaca, pelaku industri pariwisata sendiri yang hendak berbuat banyak dalam menekan lonjakan itu.

“Industri pariwisata akan terkena dampak keras dari perubahan iklim,” menurut studi dari Lembaga Kepemimpinan Berkelanjutan dari Cambridge University (CISL) dan Judge Business School serta European Climate Foundation.

Hasil studi tersebut menerangkan bahwa tren peningkatan GRK merupakan hasil yang ditimbulkan dari aktivitas manusia dengan menggunakan kendaraan saat bepergian. Diperkirakan, pertumbuhan grafik ini akan tertekuk naik bahkan mencapai hampir setengah dari kondisi saat ini, yakni 10 persen pada tahun 2025.  

Aktivitas tersebut dinilai sebagai katalisator membumbungnya emisi gas rumah kaca dan ancaman bagi sektor pariwisata, utamanya terumbu karang di wilayah pesisir karena batas toleransi suhu maksimum terumbu karang pada suatu areal hanya berkisar 30-31 derajat celcius. Jika melebihi ambang batas toleransi tersebut, coral akan mengalami ‘pemutihan’ dan mati.

Reuters mencatat, terumbu karang telah menyumbangkan US$11,5 miliar per tahun untuk pendapatan di sektor pariwisata. Disamping itu, ia juga mendapat ancaman dari suhu air laut yang menghangat, naiknya permukaan air laut dan peningkatan tingkat keasaman akibat karbon dioksida di atmosfer.

Menurut laporan tersebut, musim dingin yang lebih hangat mempersingkat musim olahraga di musim dingin dan mengancam keberlangsungan beberapa resor ski.

Resor-resor ski dapat mencoba beradaptasi dengan menarik para pendaki musim panas, atau membeli lebih banyak mesin pembuat salju.

“Namun sulit untuk memberikan kisah positif seputar resor-resor ski,” ujar Eliot Whittington, direktur perubahan iklim di CISL.

“Setiap bagian industri perlu memikirkan apa yang perlu dilakukan untuk beradaptasi dengan perubahan iklim, selain bagaimana melanjutkan proses mengurangi dampak operasi-operasi mereka terhadap lingkungan,” ujar Stephen Farrant, direktur Kemitraan Pariwisata Internasional pada reuters.

Perjalanan mencakup 75 persen dari emisi rumah kaca pariwisata, sehingga diperlukan kendaraan yang lebih efisien dan bahan bakar yang lebih ramah lingkungan. (MFA)

Sumber: Reuters

 


Redaksi Medialingkungan.com

Related post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *