Siasati Perubahan Iklim, Pertanian Indonesia Harus Berbasis Teknologi

 Siasati Perubahan Iklim, Pertanian Indonesia Harus Berbasis Teknologi

Pembukaan Nahdlatul Ulama Science and Cultural Art Olympiad (NU-santara 2015) Auditorium Toyib Hadiwijaya Fakultas Pertanian Institut Pertanian Bogor. pada Jumat, (16/10). Gambar: uslimedia)


Medialingkungan.com – Fenomena perubahan iklim mengancam lintas-bidang termasuk bidang pertanian. Meski tidak bisa dielakkan, namun fenomena ini harus disiasati melalu upaya-upaya pengurangan dampak. Demikian yang dikatakan Guru Besar Agrometeorologi Geomet, FMIPA Institut Pertanian Bogor (IPB), Prof Yonny Koesmaryono, dalam pembukaan Nahdatul Ulama Science And Cultural Art Olympiade di Kampus IPB, Bogor, Jumat (16/10).

Yonny mengatakan, pertanian Indonesia harus berbasis teknologi. “Pertanian ke depan adalah pertanian yang berbasis teknologi. Bukan lagi pertanian yang berbasis atau mengandalkan intuisi dari para petani saja. Tapi kita harus merekayasa sehingga perlu sumber daya manusia yang cerdas,” ujarnya.

Perubahan iklim, menurut Yonny merupakan fenomena yang harus disiasati sebagai faktor kondisi yang tidak bisa dielakkan. Sebagai negara tropis, iklim Indonesia dipengaruhi oleh dua musin, yakni kemarau dan penghujan. Sehingga Kondisi di negara tropis dengan banyak perubahan terjadinya elnomo serta dipolmode di bagian Barat dan Timu yang memicu timbulnya kemarau panjang.

“Melihat kondisi cuaca seperti ini, ke depan pertanian harus adaptif terhadap permaslaahan ini,” katanya.

Menurut Yonny, pola adaptasi ini dapat dilakukan melalui upaya pembangunan resevoarnisasi, menampung air di embung dan daerah resapan seperti situ maupun kolam resapan lainnya.

“Ini suatu tantangan bagaimana kita selaku manusia intelektual tinggi menyiasati kondisi itu,” katanya.

Penggunaan teknologi pada bidang pertanian juga dapat mengurangi terjadinya bencana. Ia menyarankan agar pemikiran negatif harus diubah menjadi pemikiran positif.

Ia menyontohkan, penguatan teknologi benih dalam menyiasati perubahan iklim. Dengan menciptakan benih yang dapat produktif di lahan kering, atau benih yang efisien dalam penggunaan air.

Untuk menemukan itu, lanjut Yonny, diperlukan sinergitas antara pemerintah, perguruan tinggi, lembaga penelitian dan pengembangan serta petani. Selama ini antara perguruan tinggi, pemerintah, balitbang dan petani berjalan sendiri-sendiri.

“Perlu ada dirjen yang mensinergikan semua komponen ini. Apa melakukan apa, perlu disinergikan. Ibarat sebuah lagu yang dimainkan oleh masing-masing pemain, ada gitar, bass, drum, tetapi mereka bisa berkolaborasi. Alatnya berbeda tetapi instrumen menjadi sebuah lagu yang enak,” ungkap Yonny. {Fahrum Ahmad}


Redaksi Medialingkungan.com

Related post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *