Sungai Air Bengkulu Tak Sejernih Saat Bung Karno Masih Hidup

 Sungai Air Bengkulu Tak Sejernih Saat Bung Karno Masih Hidup

Kondisi Sungai Air bengkulu (gambar:isimewa)


Medialingkungan.com – Perubahan kondisi Sungai Air Bengkulu, dimulai tahun 1980-an, saat perusahaan pertambangan batubara melakukan aktifitasnya di hulu Sungai Air Bengkulu. Penambangan ini dimulai setelah ditemukan Batubara Miosen, yang dapat ditambang di Cekungan Bengkulu. Lokasinya mulai dari Bengkulu Tengah, Bengkulu Utara, dan daerah lainnya.

Dulunya lokasi ini menjadi tempat santai Bung Karno pada saat dibuang di Bengkulu tahun 1938-1942. Dia sendiri menetap di di kampung Anggut Atas, yang letaknya mendekati pantai Samudera Hindia. Sungai Air Bengkulu dijadikan tempat untuk memancing ikan dan bersantai di tepiannya sambil membaca buku.

Namun sayangnya, yang dinikmati Bung Karno sangat sulit dirasakan saat ini. Sungai Air Bengkulu kini tercemar, ikan seluang kesukaan Bung Karno juga sangat sulit didapatkan. Air sungai ini coklat kehitaman layaknya air parit, akibat limbah batubara. Kedalamanya pun tak lebih dari 1,5 meter. Padahal di bawah tahun 1980-an, kedalamannya mencapai 5 meter.

Sejak adanya penambangan tahun 1999, masyarakat di sekitar Sungai Air Bengkulu beralih profesi dari petani dan nelayan menjadi penambang limbah batubara. Penghasilan dari menambang limbah batubara ini cukup lumayan. Sehari, dari pagi hingga sore, mereka menghasilkan 125-200 kilogram limbah batubara berkisar Rp 50-100 ribu.

Belum diketahui persis nama perusahaan yang kali pertama melakukan penambangan batubara di hulu Sungai Air Bengkulu. Tapi menurut Nana Sudjana, seorang pejabat pemerintah di Bengkulu Tengah, seperti dikutip investor.co.id (14/07/2011), ada tiga perusahaan yang melakukan aktifitasnya belasan tahun lalu yakni PT Bukit Sunur, PT Danau Mas Hitam dan PT Bina Bara Lestari di Kecamatan Tabah Penanjung, Kabupaten Bengkulu Tengah.

Menurut Sony Taurus, kepala Divisi Advokasi Walhi Bengkulu (19/06/2014) lalu, pendakalan Sungai Air Bengkulu oleh limbah batubara sebagai akibat pencucian batubara yang diikuti erosi di lokasi penambangan batubara bermula sejak tahun 1980-an.

“Lantaran begitu banyaknya limbah batubara di Sungai Air Bengkulu, menurut sejumlah ahli pertambangan kepada kami, kandungan limbah batubara yang mengendap di Sungai Air Bengkulu baru akan habis dikeruk dalam waktu 10-15 tahun,” katanya. (DN)

 

Sumber : http://www.mongabay.co.id/


Redaksi Medialingkungan.com

Related post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *