Vaksin Terbaru Lumpuhkan Virus Campak

 Vaksin Terbaru Lumpuhkan Virus Campak

ilustrasi vaksin penyakit campak. (gambar: Istimewa)


Medialingkungan.com – Ilmuwan di Institut Paul Ehrlich, Jerman berhasil mengembangkan vaksin untuk meredam penyebaran virus campak. Mereka menggunakan molekul kecil buatan yang mencegah virus berkembangbiak.Sejauh ini percobaan tersebut membuahkan tren positif. Metode itu terbukti sanggup mematikan fungsi pengganda pada virus campak. Obat-obatan untuk menghadang penyebaran virus campak sangat dibutuhkan. Di seluruh dunia sekitar 120.000 orang meninggal dunia akibat penyakit mematikan tersebut. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO)berambisi memusnahkan penyakit campak. Namun minimnya cakupan imunisasi pada penduduk sering berujung pada wabah campak di negara-negara miskin.

Pada percobaan yang dilakukan ilmuwan itu membuktikan bahwa virus ini berasal dari ordo dan genus yang sama dengan virus campak. Dari temuan tersebut, percobaan selanjutnya diujicoba kepada seekor cerpelai Eropa.Ilmuwan itu awalnya menyuntikkan virus Canine Distemper ke tubuh caperlai. Terbukti, Canine Distemper sanggup mematikan hewan sejenis tikus. Tiga hari pascaterinfeksi, hewan tersebut mulai mendapatkan pengobatan selama dua pekan. Hasilnya positif, semua hewan bisa bertahan hidup.

“melalui metode yang kami kembangkan, semua hewan bisa bertahan hidup,” kata Kepala tim Peneliti, Veronika von Messling Sejauh ini ilmuwan belum menemukan adanya efek samping dari penggunaan vaksin tersebut. Uniknya, caperlai itu kemudian menjadi imun terhadap virus sejenis campak. Pasalnya, virus berkembangbiak di dalam sel mahluk hidup dan memiliki kemampuan mampu menggandakan informasi genom dan menyalurkannya kepada virus-virus baru. Virus ini bergantung pada enzim sejenis protein yang disebut sebagai Polymerase. Messling juga mengatakan Obat-obatan ia buat bekerja untuk memblokir fungsi penggandaan virus tersebut. Selain itu, Obat ini juga sanggup menghentikan penyebaran virus.

Selama ini peneliti baru mengujicoba keampuhan metode baru itu pada kultur sel dan hewan. Jika sudah layak produksi, obat campak yang dikembangkan di institut Paul Erlich itu akan dikonsumsi manusia dalam bentuk tablet atau jus. “Masih ada beberapa tahapan lagi sebelum kami benar-benar mempertimbangkan ujicoba pada manusia,” kata Messling. Penyakit campak sangat menular dan mampu menyebar cepat di antara orang-orang yang tidak mendapat imunisasi. Sebab itu imunisasi adalah satu-satunya metode perlindungan paling ampuh terhadap campak.(AND)


Redaksi Medialingkungan.com

Related post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *