Edukasi Tempat Sampah Terpilah Tanamkan Kepedulian Lingkungan Sejak Dini di SD 3 Bila Lagading
Mikroba sebagai Bakteri Pengunyah Minyak Perairan
Tumpahan Minyak di teluk Meksiko (gambar:istimewa)
Medialingkungan.com – Minyak terbukti menjadi pencemar lautan nomor satu. Separuhnya dari total pencemaran tersebut dihasilkan dari aktivitas industri. Selebihnya akibat kegiatan pelayaran hingga kecelakaan kapal tanker. Banyaknya peristiwa kebocoran gas alam di dunia sangat berdampak buruk terhadap lingkungan. Salah satu contohnya, ledakan minyak yang terjadi di Deepwater Horizon Teluk Meksiko menewaskan 11 orang dan memuntahkan hampir lima juta barel minyak ke permukaan Teluk. Contoh tersebut dinilai sebagai bencana laut terbesar dalam catatan sejarah Amerika, namun ini bukan satu-satunya.
Menurut Badan Perlindungan Lingkungan AS kira-kira 14 ribu tumpahan minyak dilaporkan terjadi setiap tahunnya di Amerika Serikat saat minyak dan gas alam ditransfer melalui jaringan pipa, kapal tongkang, kereta api, dan truk. Komponen minyak mentah terdiri dari lebih 100 jenis senyawa yang terkelompok dalam alkana, aromatik, resin dan asphaltene. Komponen tersebut merupakan polutan utama di tanah dan lingkungan perairan yang bersifat toksik (racun). Informasi konsorsium mikroba pendegradasi mintak mentah sangat diperlukan. Ini sesuai dengan satu proses bioremediasi yaitu teknik biostimulasi yang aplikasinya lebih efektif karena langsung merangsang aktivitas mikroba yang ada di kawasan cemaran limbah.
Bioremediasi mengacu pada segala proses yang menggunakan mikroba atau enzim-enzim yang dihasilkan oleh mikroba tersebut untuk membersihkan atau menetralkan bahan-bahan kimia dan limbah secara aman. Para ilmuwan berhasil mengidentifikasi dan memperkirakan bahwa sekitar 100 jenis mikroba yang mengkomsumsi tumpahan minyak yang terjadi empat tahun lalu itu di anjungan pengeboran minyak lepas pantai di Deepwater Horizon di Teluk Meksiko. Menurut Colin Murrell, ahli mikrobiologi lingkungan di University of East Anglia di Inggris pada eksperimenya mengatakan bahwa temuan ini memberi informasi bagi pembuat keputusan tentang potensi mikroba untuk memperbaiki kerusakan alam.
“Dari segi pembersihan lingkungan atau dalam konteks organisme yang menghasilkan bahan kimia bermanfaat dan secara hayati lebih bersih dibandingkan penggunaan bahan kimia berbahaya, sehingga ini merupakan proses kimia yang ramah lingkungan,” papar Murrel. Murrell juga menyarankan bahwa efek metana pada pemanasan global 20 kali lebih besar dibandingkan karbon dioksida. Jadi, penting untuk memahami bagaimana metana ini bisa dibersihkan dari lingkungan secara alamiah sebelum gas-gas ini terlepas ke atmosfir. (IRL)