Perubahan Iklim Himalaya Picu Kelumpuhkan Pertanian di Asia

 Perubahan Iklim Himalaya Picu Kelumpuhkan Pertanian di Asia

Pegunungan Himalaya (Gambar:uniqpost)


Medialingkungan.com – “Kita perkosa alam dan lingkungan demi ilmu pengetahuan…, Pendek kata, demi semua yang baik, halal ‘lah semua sampai ‘pun yang paling tidak baik”. Ini merupakan penggalan kalimat dalam puisi yang ditulis oleh Gus Muh beberapa waktu lalu untuk menyambut tahun baru 2015. Puisi yang berbenturan dengan fenomena alam yang efeknya ditanggung oleh semua Negara di belahan dunia manapun.

Perubahan iklim ekstrim yang terjadi hingga tahun 2014 lalu di kawasan Gunung Hilamalaya contohnya. Kondisi ini mengubah tatanan ekosistem di sana dan memicu terjadi bencana, mengancam defisit produksi di sektor pertanian, serta mengancam kehidupan para petani.

Berdasarkan laporan penelitian International Centre for Integrated Mountain Development tahun 2011, dinyatakan bahwa suhu Himalaya meningkat sekitar 0,6 derajat Celcius dalam satu dasawarsa, terhitung antara tahun 1977 dan 2000.

Pengaruh yang ditimbulkan dari kenaikan suhu tersebut juga mengancam ketahanan air dan pangan di negara-negara Asia, termasuk Indonesia. Area Himalaya terbentang dari ujung timur Afganistan melalui Nepal hingga ujung utara Myanmar.

Sudah menjadi rahasia umum bahwa Himalaya mengandung bongkahan salju dan gletser air tawar yang menjalar ke 10 sungai utama Asia, seperti Gangga, Brahmaputra, Mekong, dan Yangtze. Singkat kata, Himalaya turut menyemai sektor pertanian di sepanjang benua Asia.

Staf manajemen risiko program pengembangan PBB, Deepak K.C. mengatakan, perubahan iklim di area Himalaya sudah menimbulkan semburan kering, diselingi dengan hujan deras dalam waktu singkat yang bisa mengakibatkan banjir.

Sementara itu, petani setempat juga mengakui banyak hama yang menggerogoti hasil panen mereka. Menurut petani ini, peralihan musim yang biasanya terjadi pada bulan Juni, kini tak bisa diprediksi lagi. “Kami bergantung pada curah hujan yang tepat waktu untuk budidaya panen,” ujar seorang petani bernama Purnimaya Thamang yang tinggal di desa kecil di dekat kaki pegunungan Himalaya pada CNN Indonesia.

Diketahui letak negara Nepal terhimpit oleh India dan Tiongkok, keduanya adalah penyumbang terbesar di dunia untuk emisi gas rumah kaca. Walau sifatnya eksternal, namun hal itu bisa dibilang sebagai masalah besar bagi Nepal di masa depan karena menerima dampak negatif emisi gas rumah kaca.

“Kami tidak menelan racun, namun kami tengah diracuni,” ujar wakil pemimpin komisi perencanaan Nepal, Govind Raj Pokharel. (MFA)


Redaksi Medialingkungan.com

Related post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *