Edukasi Tempat Sampah Terpilah Tanamkan Kepedulian Lingkungan Sejak Dini di SD 3 Bila Lagading
Misi Besar KTT Perubahan Iklim
Sekjen PBB, Ban Ki Moon saat melakukan diskusi dengan para kepala negara dalam KTT iklim di New York, Amerika Seirkat, kemarin (23/09) (Gambar: RP)
Medialingkungan.com – Indonesia turut andil pada KTT iklim di Markas Besar PBB di New York, Amerika Serikat, kemarin (23/09). Tampak suasana euforistik dari sejumlah negara yang hadir pada saat itu – menyusul komitmen bersama yang semakin nyata dalam upaya mitigasi lingkungan termasuk antisipasi perubahan iklim.
KTT iklim yang dibuka dengan sambutan dari Sekjen PBB, Ban Ki Moon mengemukakan bahwa pada 2015 diharapkan tercapai perjanjian global untuk membatasi peningkatan suhu dunia kurang dari 2 derajat. Karena itu, Ban Ki Moon mendorong semua pihak, para kepala negara/pemerintahan, pihak swasta dan lembaga swadaya masyarakat untuk terus melakukan upaya agar target ini bisa tercapai.
“Saya sangat yakin bahwa setiap dari kita bisa bangkit dan bisa menjadi pemimpin-pemimpin dalam berjuang terhadap perubahan iklim,” kata Ban Ki Moon.
Dalam pembukaan tersebut, turut pula aktris Li Bingbing dan aktor Leonardo DiCaprio yang didaulat sebagai Duta Earth Hour WWF dan Duta Perubahan Ikllim PBB juga memberikan sambutannya dalam kaitannya terhadap percepatan aksi kongkret dalam menghadapi perubahan iklim.
KTT Iklim membahas tentang aksi dan win-win solusi yang dititikberatkan pada percepatan kemajuan dalam berbagai bidang yang secara signifikan mempengaruhi pengurangan emisi dan penguatan ketahanan, seperti pertanian, perkotaan, energi, keuangan, hutan, polutan, dan transportasi.
Sebagai Delegasi sekaligus salah satu pembicara, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono juga menyampaikan, dalam kerjasama multilateral, Indonesia memandang bahwa semua pihak harus meningkatkan effort untuk menghasilkan kesepakatan yang mengikat terkait kerangka kerja perubahan iklim 2020.
“Saya menggarisbawahi bahwa kesepakatan harus juga mengait dengan mitigasi, adaptasi dan kerangka kerja untuk implementasi,” paparnya.
Sejak Protokol Kyoto dianggap kadaluarsa pada tahun 2012 silam, para pemuka negara menjadi sangat serius dan reaktif terhadap perubahan iklim.
Tahun mendatang di Lima, Brasil, sekuel Protokol Kyoto akan lahir dan memberikan regulasi yang baru serta tindakan yang jelas terkait sanksi jika terdapat tindak pelanggaran terhadap komitmen masing-masing negara.
Reformulasi ini akan mengikat secara multicultural pihak-pihak negara yang berada pada region yang sama — agar berkompetisi dalam pengurangan emisi di negaranya masing-masing.
Menurut Yudhoyono, Indonesia sendiri telah memiliki sejumlah strategi untuk menghadapi challenge perubahan iklim.
“Pertama adalah secara sukarela menetapkan pengurangan emisi gas rumah kaca 26 persen pada 2020. Dimana target itu bisa meningkat menjadi 41 persen dengan dukungan internasional,” tegasnya. Langkah kedua, mengurangi emsisi dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat di sekitar hutan.
“Ketiga kami terus mengeksplorasi potensi blue carbon ekosistem yang bisa membantu upaya global untuk menahan kenaikan suhu bumi rata-rata dua derajat,” sambung Presiden. Dan langkah keempat Indonesia adalah telah menandatangani amandemen Doha untuk Kyoto Protocol.
“Pemikiran saya, terdapat dua pendekatan elemen penting dalam kebijakan Indonesia terkait perubahan iklim masing-masing kerjasama multilateral dan sejumlah aksi di tingkat nasional yang tepat untuk menghadapi tantangan yang ada,” kata Presiden.
Ia menengarai bahwa kesepakatan perubahan iklim harus berkaitan dengan mitigasi, adaptasi dan kerangka kerja untuk implementasi.
Ia menambahkan,”kita harus meningkatkan upaya kita agar dapat menghasilkan perjanjian mengenai perubahan iklim di Paris tahun depan.”
Amerika Mulai Tergerak
Walikota New York, Bill de Blasio mengaku sangat gembira menjadi tuan rumah dalam KTT Iklim ini. Dia mengajak kepada semua negara untuk serius dan mempercepat aksi dalam menghadapi perubahan iklim. Sebab, New York sudah mengalami angin topan yang mengakibatkan banyak korban berjatuhan.
“Kami sudah memulai dan kami berhasil menurunkan 19 persen peningkatan emisi gas buang,” kata de Blasio yang mengklaim bahwa pihaknya memiliki komitmen yang sangat besar dalam upaya mengantisipasi perubahan-perubahan iklim.
Selanjutnya, de Blasio mengharapkan negara-negara maju untuk melakukan aksi-aksi besar terkait perubahan iklim ini.
Presiden Amerika Barack Obama juga dijadwalkan akan menandatangani sebuah perintah eksekutif yang mengharuskan badan-badan federal untuk memasukkan perubahan iklim sebagai pertimbangan, ketika berinvestasi dalam program-program pembangunan di luar negeri.
Ekspektasi KTT Iklim
Kenaikan suhu bumi secara signifikan, yakni melebihi 2 derajat sejak 50 tahun terakhir mengakibatkan permukaan laut terus mengalami kenaikan. Disamping itu, di sejumlah negara terjadi kekeringan panjang dan disusul bencana lain di negara lainnya.
Tak banyak yang menyangkal bahwa negara seperti Amerika, India, dan China merupaka salah satu Negara dengan sumbangan emisi terbesar di dunia.
Untuk itu, kata Leonardo DiCaprio pada kesempatannya memberikan sambutan mengatakan, kini saatnya untuk melakukan aksi nyata. “Anda semua bisa membuat sejarah,” kata DiCaprio.
Lebih dari 120 pemimpin dunia diperkirakan akan bertemu dan membahas berbagai cara untuk mengurangi emisi karbon di negara masing-masing, yang merupakan bagian dari tujuan yang ditetapkan tahun 2009 untuk mencegah suhu bumi agar tidak naik lebih dari 1,1 derajat Celcius dari suhunya sekarang. (MFA)